Cuka Sudah Tua, Majikan Sabar Disayang Tuhan


digambar oleh erick eko pramono

digambar oleh erick eko pramono

Menyayangi Cuka kecil tidaklah sulit. Siapa tidak suka pada anak anjing kecil imut, berbulu panjang dan lembut. Oooh, saya ingat betapa nikmatnya mengusel-uselkan wajah saya ke bulu dadanya yang lembut.

Bukan cuma penampilannya yang bikin jatuh cinta. Kelakuan Cuka tak kalah asyiknya. Periang, suka menggoda, enggak gampang marah, cepat baikan, manja-manja menyenangkan.

Memang tidak semua pengalaman bersama Cuka kecil selalu menyenangkan. Ada juga jengkel waktu dia nakal buang air sembarangan. Ada juga saat menyesal, melihat kilat tidak terima di mata Cuka saat saya memukulnya. Ada juga  hati yang  tidak karuan, cemas campur khawatir saat ia sakit. Tapi dari semua pengalaman itu, tidak pernah rasanya sampai saya membenci.

Ada yang bilang benci dan cinta tak jauh beda. Tapi untuk Cuka, saya tahu jelas bedanya.

Berhubungan dengan Cuka, secara fisik dan emosional, membantu saya mengerti bagaimana orang tua memandang anak-anaknya. Dalam skala yang jauh berbeda, saya jadi mampu memahami kekhawatiran orang tua ketika saya sakit. Ketika saya kecelakaan. Pun rasa senang yang muncul saat meluangkan waktu bersama. Bermanja-manja bermain bersama.

Cuka kecil telah mengajarkan saya bagaimana memandang seorang anak dari kacamata orang tua.

Menyayangi Cuka tua sepertinya sulit bagi sebagian besar orang. Anjing tua yang berjalan tertatih-tatih. Kadang sempoyongan. Matanya tidak lagi cemerlang. Buram oleh katarak. Bulunya tipis. Gimbal dan bau.

Tapi mungkin karena kami sudah berkeluarga selama hampir lima belas tahun. Karena tangan saya sudah cukup kotor oleh liur, kencing, faeces, darah luka, ataupun darah menstruasi, ada ikatan emosi yang dalam di sana. Saya tetap sayang padanya. Mungkin rasa sayang itu memang tidaklah transaksional.
Dahulu, kalau Cuka membuat kesalahan saya akan benar marah campur jengkel. Kemudian tidak lama, lagak saya saja yang marah. Dalam hati terkikik-kikik melihat Cuka yang sedang dimarahi ndepipis ketakutan tak berani bergerak. Kini saya tidak lagi bisa marah. Wong marah juga tidak lagi berguna. Majikan marah Cuka tetap berlalu. Dan aku bisa apa.

Pada suatu saat, seperti yang sudah biasa terjadi, Cuka menginjak piring makannya sampai isinya berantakan ke lantai. Ia tetap berjalan lurus seolah tidak terjadi sesuatu. Saya menarik nafas panjang. Ibu saya memandang saya dan berkata,

“Besok kalau aku sudah seperti itu jangan dimarahi, ya!”

Saat memandang Cuka tua, Ibu mengaku ingat pada kakek. Almarhum kakek meninggal saat berumur sekitar 85 tahun. Tertatih-tatih. Rabun dan tuli. Selalu bau pesing.

Saat memandang Cuka tua, saya kemudian memandang orang tua. Ayah dan ibu semakin lama semakin renta. Sanggupkah saya esok menghadapi mereka. Saat lemah. Saat pikun. Mungkin sakit-sakitan. Pelan tapi pasti. Kalau tidak tiba-tiba mati. Aduh, amit-amit.

Pernah belum lama, saya ngeluh soal Cuka yang seenaknya sendiri. Lagi-lagi ibu membela.

“Kasihan, sudah tua.”

Seolah itu bukan pembicaraan tentang Cuka. Itu nasehat orang tua kepada anaknya. Mengingatkan si anak agar sabar. Harap dimaklumi. Jangan gampang marah.

Cuka tua membantu saya memahami tentang arti menjadi tua. Dengan pelan dan bertahap, ia mempersiapkan saya untuk masa yang akan datang. Masa menghadapi orang tua yang jompo. Masa di mana saya akan jadi jompo.

Yogyakarta, 30 Juni – 23 Juli 2014
lama yang nulis karena gagal fokus
bukan karena sudah tua tapi karena memang payah saja

tulisan lain tentang menjadi tua

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s