It’s Not Easy Being White, Karena Putih Itu Ketinggalan Jaman, Tidak Keren, dan Cemen


$RDG7WUSIt’s not easy being green
It seems you blend in with so many other ordinary things
And people tend to pass you over
’cause you’re not standing out like flashy sparkles in the water-
or stars in the sky

Begitu nyanyi Kermit Si Kodok. Sulit katanya jadi hijau. Tidak tampak karena begitu terbaur dengan benda-benda biasa di sekitar kita. Wajar, jamannya jaman selebritis. Semua ingin tampak menonjol. Apalagi untuk artis seperti kodok satu ini.

Saya bukan Kermit. Bukan kodok, bukan boneka, dan juga bukan selebritis. Tapi sedikit-sedikit saya mengerti penderitaan Kermit. Buat saya,

It’s not easy being white

Iya, tidak mudah jadi golongan putih di pilpres 2014. Di tengah perseteruan dua kubu yang sengit saling menjatuhkan layaknya musuh bebuyutan, golongan putih ini kayanya yang dianggap paling hina dina.

Mulai dari dicap tak punya sikap, tidak peduli dengan bangsa dan negara, sampai mau cari aman sendiri.

Lho, memilih untuk tidak memilih itu sudah suatu sikap. Tidak memilih juga bukan berarti tidak peduli pada negara, wong itu hak. Beda dengan misalnya tidak lapor pajak, itu kewajiban. Mau cari aman sendiri gimana, nyatanya juga dibenci dan tetap tidak merubah sikap. Teguh pada keadaan dibenci dan sedikit teman kok bisa-bisanya dibilang cari aman. Lagipula bedakan antara netral dan golput, karena bisa jadi golput itu mengambil posisi sendiri. Bukan berada di tengah antara pihak yang bertikai.

Lingkungan sosial saya kebanyakan memilih Jokowi. Kebanyakan beralasan karena takut pada Prabowo yang bau-bau fasis. Anti keberagaman. Pun militeristik.

Saya juga begitu. Ogah sama aroma fasis yang diusung Prabowo. Tapi saya juga enggan memilih Jokowi. Berita Jokowi dan Abu Rizal Bakrie bertemu di Pasar Gembrong dan berpagutan tangan tidak bisa lepas dari ingatan.

“Malam hari ini saya bertemu di Pasar Gembrong dengan Pak Aburizal Bakrie, Pak ARB. Kenapa tempatnya di sini karena ini ekonomi kerakyatan kita ada di sini. Penjual pisang, sayur, ikan, tahu tempe, ada di dalam pasar. Sehingga tempat yang sangat kerakyatan,” kata Jokowi.

Bah! Itu jelas-jelas permainan citra. Berpegangan tangan dengan ARB dan berani bilang soal ekonomi kerakyatan hanya karena ketemu di pasar? Semprul!

Besoknya ARB mengumumkan diri merapat ke kubu Prabowo. Sokor!!!

Enggak. Saya enggak sudi milih Jokowi. Mau bilang Jokowi lebih baik dari Prabowo saya setuju. Mau bilang Jokowi membawa harapan Indonesia yang lebih baik saya tidak menampik. Tapi saya tetap enggak sudi. Harus ada yang bilang bukan pemimpin seperti itu yang kami inginkan. Dan buat saya, pernyataan itu adalah dengan golput!

Nah, bisa dibaca sekali lagi kan kalau golput itu suatu sikap.

Tapi tampaknya teman-teman pendukung Jokowi tetap tidak terima dengan golput. Mereka bisa sok-sokan menghindari black campaign terhadap Prabowo tapi terang-terangan black campaign terhadap golput. Wajar, golput kan kaum lemah. Dalam pilpres kali ini siapapun yang menang, golput pasti kalah. Dan pihak kalah itu pihak yang nantinya jahanam. Jadi tenang saja.

Bahkan kalau boleh saya bilang, banyak pendukung Jokowi sudah kehilangan akal sehat. Fanatik. Sudah enggak eling. Kalau boleh bilang lho ya. Tapi tentu saja boleh. Ini kan blog saya sendiri.

Dan yang paling tidak saya suka adalah penggunakan teknik manipulasi pikiran. Mulai dari teknik motivasional semacam jargon “Orang baik pilih orang baik” sampai psikologi terbalik macam “tidak keren” atau “ketinggalan jaman”.

Seberapa yakin memangnya yang dipilih itu orang baik. Lalu kalau memilih yang “diyakini sebagai orang baik” berarti si pemilih orang baik? Bah!! Gampang benar jadi orang baik. Oh iya ding, memang gampang punya “label” orang baik.

Apa mereka memang berharap orang nyoblos biar dianggap keren dan dianggap sesuai dengan jaman. Padahal pada saat yang sama mereka mendengung-dengungkan seruan memilih dengan akal sehat dan pikiran mandiri. Sekali lagi:  bah!

Bahkan ada teman yang bilang kalau golput itu lebih baik pergi ke planet lain saja. Lumayan sebenarnya, berplanet sendiri itu sudah termasuk beruntung. Coba bandingkan dengan komunis yang cuma diberi pulau sendiri di Buru. Apalagi Syiah yang hanya kebagian Stadion Gelora Olahraga Sampang.

Teman itu, yang mendukung Jokowi karena takut akan kefasisan Prabowo, berubah jadi sosok yang ia takuti sendiri. Fasis. Menyingkirkan yang berbeda. Semua harus seragam dengan dirinya.

Tapi mohon jangan ditanggapi dengan serius. Saya yakin dia sedang bercanda. Mungkin. Sepertinya. Anggap saja demikian.

Banyak kok yang macam itu. Modelnya pun beragam. Ada yang mendukung Jokowi dengan harapan Indonesia bisa damai. Tidak ada lagi kekerasan antar golongan. Eeeh, dianya malah sibuk memanas-manasi situasi. Bikin musuh di sana-sini. Atau ada yang mengkritik pendukung Prabowo dengan mengatai mereka pengikut buta. Eeeeh, dianya ikutan buta mengelu-elukan Jokowi dan orang-orang di belakangnya.

Dan sebenarnya kondisi ini tidak cuma di pihak Jokowi saja. Ada di semua pihak.

Bagi saya, dunia di sekitar berhubungan dengan pribadi kita. Apa yang ada di sekeliling menjadi cermin bagi kita. Begitu juga sebaliknya. Saling mempengaruhi. Berhubung kita sedikit sekali, atau bahkan tidak memiliki kemampuan mengendalikan hal-hal di luar diri, maka cara mengusahakan perubahan adalah dimulai dari pribadi kita sendiri. Kalau mau lingkungan kita bersih, mulailah menjadi pribadi yang bersih. Kalau berharap hidup dalam masyarakat yang harmonis, hiduplah harmonis dengan diri sendiri.

Jadi omong kosong mengharapkan perdamaian kalau diri kita masih penuh kebencian. Omong kosong mendukung keberagaman jika kita masih menyingkirkan individu yang berbeda. Omong kosong menuntut demokrasi yang sehat bila kita menolak memahami pendapat dan menyelami pemikiran orang lain.

Kalau dalam masa-masa ini saya malas ikut terlibat soal-soal politik, bisa jadi karena saya takut terkena perundungan  gara-gara golput. Bisa jadi karena saya merasa urusan politik ini membuat kebencian saya tumbuh, membuat saya menarik batas antar individu dan golongan, membuat saya tak sempat mencoba berdiri di atas sepatu orang lain dan memandang dunia dari tempatnya berdiri. Membuat saya merasa jadi tidak baik (dan orang tidak baik akan memilih orang tidak baik?).

Lagipula saya ingin melakukan sesuatu karena saya memang ingin melakukannya. Kalau saya harus memilih Jokowi karena takut pada Prabowo, berarti saya memilih berdasar rasa takut saya. Sungguh saya tidak mau. Bagaimana kita bisa jadi jiwa yang bebas dan merdeka apabila motivasi kita masih digerakkan oleh ancaman dan ketakutan.

Iya, ini lebih soal spiritual dan politik. Tiap orang berbeda. Sesuai dengan pengalaman dan pemahamannya masing-masing. Tidak ada benar tidak ada salah.

Ah sudahlah! Jangan diperpanjang karena saya masih menyimpan syak wasangka. Jangan-jangan semua tulisan ini adalah mekanisme pikiran saya untuk mendapatkan pembenaran dari rasa malas datang ke TPS.

Sebentar lagi lebaran. Semoga kita semua bisa bermaafan. Jokowi dengan Prabowo. Rhoma Irama dengan Ahok. Ahmad Dani dengan Farhat Abbas. Saya dengan Anda.

***

Sebelum pemilu kemarin orang tua sempat menanyakan pilihan saya. Ternyata pilihan saya dianggap mengecewakan.

“Dari pemilu-pemilu yang sudah-sudah, ini yang paling kecewa.”

Saya tidak enak hati. Dua tiga hari menjelang pemilihan saya diminta untuk ikutan nyoblos.

Saya punya cukup keangkuhan untuk berdiri tegak lurus dengan langit menghadapi ketakutan saya pada hantu fasisme. Tapi keberanian ini bertekuk lutut di hadapan rasa khawatir orang tua saya. Orang tua saya adalah saksi hidup dari bagaimana negara mampu mempermainkan hidup orang. Birokrasi berarti hantu dan pejabat berarti pemerasan. Mulai dari orde lama, orde baru, sampai orde reformasi. Mulai dari PP-10 tahun 59 sampai Surat Edaran Gubernur DIY PA. VIII No.K.898/A/1975.

Saya paham benar alasan mereka. Tidak berapi-api seperti angkatan 98, tapi lebih dalam dan mengakar. Jadi sudahlah. Saya relakan keperjakaan politik saya.

Tanggal 9 Juli 2014, saya celupkan ujung jari tengah ke dalam tinta ungu pemilu. Siap-siap ditunjukkan untuk menyambut pertanyaan,

“Nyoblos atau enggak?”

Yogyakarta, melewati tengah malam antara tanggal 25 dan 26 Juli 2014
sengaja ditulis setelah pengumuman KPU dengan harapan sudah pada tenang

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to It’s Not Easy Being White, Karena Putih Itu Ketinggalan Jaman, Tidak Keren, dan Cemen

  1. Jho says:

    Wah, epilognya cukup mengagetkan.

  2. Pandi says:

    mantapp… yang penting punya sikap mas.. ^^

  3. GaL says:

    Tahun ini, saia malu ngaku kalau nyoblos. Gak berangkat sampai orang serumah tanya. Pulang dari TPS merendam jari dalam larutan amonia plus jeruk nipis. Rasanya malu tahun ini ikut nyoblos walaupun ragu-ragu. Rasanya malu, pemilu sebelumnya bisa dengan bangga bilang, “Putih dong, calonnya gak ada yang masuk, sih.” Tahun ini, tiap kali ada yang bahas pemilu, saia berusaha invisible, melipir diam-diam, dan kalau kegep, ngomong tak tentu arah.
    Saia merasa kotor, setelah mencelupkan jari ke dalam tinta. Bukan hanya jari, tetapi juga hati.
    #malahcurhat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s