Menonton “The Act of Killing”, Mencoba Memahami “Jagal”


peringatan, tulisan ini mengandung spoiler

anwar congo“What do you think about ‘The Act of Killing’?”

“It’s CRAZY!!  Bagaimana mungkin orang yang telah membunuh sedemikan banyak korban masih bisa bebas kemana-mana sampai saat ini!?”

Begitu komentar seorang mahasiswa asing saat ditanya pendapatnya mengenai film “Jagal” atau lebih dikenal dengan judul bahasa Inggrisnya, “The Act of Killing”. Mahasiswa lainnya berkomentar,

“Saya merasa prihatin saat melihat film itu. Orang luar yang melihat “The Act of Killing” akan berpikir bahwa Indonesia adalah tempat yang mengerikan. Sudah beberapa waktu saya berada di Yogyakarta, dan di sini orang-orang tampak damai dan senang. Saya jadi merasa sedih.”

“Ya. Kritik saya terhadap “The Act of Killing” adalah bahwa film ini tidak mewakili apa yang terjadi di Indonesia. Kita tidak bisa memandang film ini sebagai gambaran tentang apa yang terjadi dengan PKI tahun ’65, melainkan hanya sebuah fragmen sejarah yang terjadi di Medan saja,” tanggap Romo Bas, seorang sejarahwan.

***

Buat saya, “The Act of Killing” lebih merupakan sebuah dokumentasi psikologi daripada dokumentasi sejarah.

“The Act of Killing” dinarasikan melalui sosok Anwar Congo. Seorang jagal orang (yang dituduh) komunis pasca kudeta berdarah tahun 1965. Pada awal film ditampakkan Anwar Congo yang begitu percaya diri, tanpa penyesalan bahkan penuh kebanggaan menceritakan bagaimana ia menghabisi nyawa begitu banyak orang.

Pelan-pelan,  sang sutradara Joshua Oppenheimer berusaha menyuguhkan sisi-sisi manusiawi dari sang jagal yang di awal tampak kejam dan dingin. Anwar yang sayang pada cucu-cucunya. Anwar yang kasihan dan melindungi seekor anak itik yang cacat.

Di akhir film, penonton disuguhi kenyataan betapa rapuhnya Anwar Congo. Anwar yang tidak bisa tidur dihantui korban-korbannya. Anwar yang berusaha mati-matian memegang pembenaran atas apa yang pernah dilakukannya. Anwar yang berimajinasi bahwa orang-orang “komunis” yang sudah dibantai akhirnya berterima kasih karena telah ia bunuh.

Anwar harus percaya kalau yang ia lakukan adalah benar. Demi kebaikan. Karena kalau tidak, penyesalan atas perbuatan tak terkira akan membuatnya gila.

***

Sejarah yang ditulis penguasa orde baru membuat kita berpikir kalau para pahlawan revolusi adalah korban dari kebiadaban komunis. Ketika orde baru tumbang dan sejarah versi lain mulai dikorek, kita mulai berpikir bahwa komunis adalah korban. Dan yang biadab bukan lagi komunis, tapi para jagal.

Setelah menonton “The Act of Killing” dan berusaha memahami apa yang terjadi pada Anwar Congo, rasanya kita semua adalah korban. Para jendral yang diculik dan dibunuh. Orang-orang komunis dan yang dituduh komunis. Juga Anwar, yang dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh sang dalang demi kekuasaan. Tak lupa saya dan Anda, yang harus hidup dengan sejarah versi penguasa.

Yogyakarta, 11 Agustus 2014
malam hari di sanggar koebus, sudah ingin menulis ini berhari-hari lalu

mencoba menggambar illustrasi dengan teknik baru setelah lama tidak bermain dengan alat gambar, aduh rasanya bahagia sekali

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Menonton “The Act of Killing”, Mencoba Memahami “Jagal”

  1. Black_Claw says:

    Ah, jangankan bule. Saya tinggal di daerah yang bisa dibilang macam Bronx di sini, penuh sama preman. Kemudian, datanglah temen saya main-main ke mari, dia Cina Medan. Begitu melihat bahwa di sini yang turunan Arab, Cina, Portugis, Timor, Dompu, dan Jawa nongkrong bareng SEBAGAI PREMAN, dia langsung culture crash. :))

    Saya langsung bilang sama dia, “Eh, lu cai, wa lang ho peng ah, no pemuda pancasila.”
    Dia ngakak, terus ngebanggain foto-fotonya yang “bareng preman” itu di fesbuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s