Pohon Cabai yang Ditanam untuk Tumbuh Garang Menantang Kekuasaan


lombok

“Mbak, siapa itu yang ngikutin?”

“Suamiku itu!”

“Woalah, aku kira copet.”

Begitulah cerita istri Widodo tentang kejadian saat ia pergi ke pasar berdua dengan suaminya. Widodo memang tidak tampak seperti petani. Lebih mirip preman atau seniman kumal.

***

Pada tahun 80’an, pesisir Laut Selatan di Yogyakarta adalah daerah berpasir tandus yang rasanya mustahil digunakan untuk bercocok tanam. Sampai akhirnya seorang petani bernama Sukarman mencoba menanam cabai di sana. Sukarman terinspirasi saat melihat tiga batang pohon cabai tumbuh liar di antara semak yang terdapat di daerah berpasir.

Pelan-pelan, keberhasilan Sukarman diikuti oleh petani lain. Seiring dengan waktu, para petani mulai mengembangkan teknik-teknik baru. Termasuk sumur renteng yang fenomenal itu.

Kalau kita berkunjung kini, sulit rasanya membayangkan bahwa dulu lahan hijau yang terbentang itu adalah padang pasir. Penduduk yang dulu miskin tertinggal kini jadi petani makmur. Yah, kalau tidak dapat dibilang makmur, minimal mereka sudah hidup dengan rasa syukur dan berkecukupan. Jauh berbeda dari masa saat lahan pasir belum mampu mereka olah.

***

“Kalau ada yang berani masuk tanahku, aku pacul saja kepalanya! Gampang ta?!”

Mas Wid, begitu kami memanggil Mas Widodo, pernah merantau sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke Malaysia. Alasannya klasik, cari penghidupan.

Kehidupan Mas Wid di perantauan tidak menyenangkan. Bahkan sempat masuk penjara. Sampai ia mendengar kisah sukses orang tuanya yang berhasil menanam cabai di lahan pasir. Akhirnya ia  memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Ke Garongan, pesisir Kulon Progo.

Dengan modal dari orang tuanya, Mas Wid menjadi petani dan membuka warung sebagai sambilan. Saat kami berkunjung ke rumahnya, ia sedang berencana menanam melon dalam dua minggu lagi. Melon termasuk tanaman yang mudah karena bisa dipanen dalam dua bulan.

Baru beberapa tahun sesudah Mas Wid merasakan nikmat dan tentramnya kehidupan petani di lahan pasir, datang kabar tak terduga. Ada perusahaan tambang hendak menambang pasir besi di pesisir Kulon Progo.

Ya! Di lahan-lahan pertanian pasir milik petani itu!!

Petani-petani seperti Mas Wid menolak. Buat apa tambang? Mereka sudah hidup senang. Tenang.

Tentu saja ada janji-janji dari pihak penambang. Termasuk katanya setelah ditambang, lahan itu bisa dijadikan lahan pertanian kembali. Konon malah lebih subur. Para petani pesisir Kulon Progo yang nantinya bergabung jadi satu dalam PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pantai) meneriakan satu pendapat:

LAWAN!!

Lawan? Melawan penambang yang didukung bukan saja pemerintah lokal tapi juga pemerintah pusat?

Coba tengok MP3EI, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan. MP3EI adalah sebuah pola induk percanaan ambisius dari pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Di rencana itu termaktub pesisir Kulon Progo dan tambang pasirnya. Ketua dari program ini tidak tanggung-tanggung, Presiden Republik Indonesia.

Mas Wid dan kawan-kawannya tidak bisa paham maksud dari rencana ini. Mereka sudah merasa makmur dan ekonomi mereka telah terbangun. Tidak perlu lagi bicara soal pemerataan, mereka sudah bisa menginisiasi dan menjalankan sistem pasar lelang. Sistem  berbasis kebersamaan untuk mematahkan gerak tengkulak. Pembangunan macam ini tidak untuk rakyat. Pembangunan ini untuk korporasi. Perusahaan penambang tadi!

“Kamu pikir dari mana kita bisa hidup?” tanya Mas Wid kepadaku. Tanpa menunggu jawaban ia jawab sendiri pertanyaannya.

“Dari tanah dan air. Tanpa keduanya kita tidak bisa makan. Tidak makan berarti tidak bisa hidup. Karena itu kita harus menghargai mereka. Kalau kita menghargai mereka, mereka juga akan menunjukkan penghargaannya kepada kita. Mereka akan memberkahi kita dengan panenan. Mereka memberi kita makanan. Lha ini kok malah mau dirusak?!”

Kebijakan Mas Wid sederhana sekali. Enggak muluk, enggak canggih, enggak perlu kutip teori sana sini seperti akademisi. Sesederhana tanah dan air yang menghidupi kita. Sederhana, dan karenanya tidak terbantahkan.

Pada umumnya Mas Wid anti akademisi. Kebanyakan teori. Tidak berguna. Buat apa itu penelitian-penelitian. Paling-paling ujungnya nanti cuma berpihak pada penguasa.

Dari sudut pandangnya, lagi-lagi Mas Wid tak terbantahkan. Pertanian yang menghidupi Mas Wid muncul dari lamunan pemuda luntang-luntung yang tidak diterima kerja di mana-mana. Pemuda yang duduk melepas lelah dan tidak sengaja melihat tiga batang tanaman cabai tumbuh liar di antara semak hamparan pasir. Pemuda yang tidak putus asa mencoba harmonis dengan alam, menanam cabai di hamparan pasir pantai selatan. Pertanian yang kemudian dikembangkan secara bertahap melalui teknologi-teknologi sederhana uji coba petani penggarap.

Tidak ada skripsi di sana. Paper, tesis, atau disertasi. Apalagi hak paten. Yang ada hanya tangan kasar yang mencangkul, hati lapang yang bersyukur, jiwa ulet yang bertekun, dan kesadaran diri akan alam.

Mas Wid juga anti LSM. Tidak bisa dipercaya. Tidak tulus. Oportunis. Cuma cari obyekan. Ujungnya nanti cuma berpihak pada yang ngasih uang.

Sejalan dengan PPLP, Mas Wid punya kebijakan sendiri tentang orang luar yang ingin membantu perjuangan mereka melawan penambang. Boleh bantu, tapi keputusan apapun tetap di tangan petani. Nasib mereka ditentukan mereka sendiri. Tidak sudi diserahkan pada pihak lain! Ini tanah mereka, ini kewenangan mereka.

“Lalu menurut Mas Wid, mengapa orang-orang merasa ingin membantu petani pesisir Kulon Progo?”

“Karena di atas bumi Indonesia ini, siapa pun di mana pun bisa saja tiba-tiba senasib dengan kami!!” jawab Mas Wid mantap.

Petani pesisir Kulon Progo memang tidak sendirian dalam hal ini. Masih dalam provinsi D.I.Yogyakarta, ada pesisir Parangkusumo. Para penghuni pesisir Parangkusumo terancam digusur, bukan untuk tambang pasir, tapi hotel. Hotel mewah tentunya. Investasi korporasi. Bukan losmen kecil-kecilan tempat karaoke dan PSK dengan harga terjangkau.

Lalu di Gunung Kidul, ada juga sekelompok masyarakat yang berusaha menolak penambangan kapur. Gunung karst mau dikepras, padahal di bawah gunung itu adalah tempat air berkumpul. Karst memang tempat peresapan air. Dari mana warga mendapatkan air bersih kalau gunung itu mau dihabisi? Dari air mineral galonan hasil rampasan korporasi dari mata air lain?

Beberapa kolompok petani yang merasa terancam ini lalu membangun jaringan. FKMA namanya. Forum Komunikasi Masyarakat Agraris. Tujuannya tentu saja sama: MELAWAN!!

Melawan di sini bukan soal ringan. Mereka harus menghadapi teror, kekerasan, intimidasi, dan yang tampaknya paling menyakitkan: penggiringan opini publik melalui tokoh agama dan akademisi.

“Perasaan dulu saya pernah baca tentang pihak tambang yang membuat percobaan. Mereka membuktikan kalau lahan pasir yang sudah ditambang tetap baik untuk tanaman, lebih baik malah.”

“Ah! Yang mereka lakukan cuma meratakan lahan pasir. Memberi pupuk banyak-banyak. Lalu ditanami. Orang luar bisa ditipu. Tapi warga sini pasti tahu!”

Mas Wid juga sempat disekap di bandara sepulang dari Filipina. Ia diundang untuk menceritakan apa yang dihadapi petani pesisir Kulon Progo. Petani lain, Tukijo, dipenjara karena berusaha mendinginkan suasana antara pekerja tambang yang nekat dan petani yang marah.

“Ya demonstrasi, bikin poster, pentas teater, apa sajalah! Tapi yang paling penting dari semua perlawanan itu adalah MENANAM! Karena kalau tidak menanam untuk apa semua ini kita lakukan?”

“Capek, Mas?”

“Ya capek.”

Sembilan tahun melawan, Mas Wid tampak lelah. Mungkin juga lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang pasti sudah sering ia dengar dan jawab.

“Kalau Tuhan itu memang ada, masak membiarkan kami seperti ini?” mungkin Mas Wid juga sudah lelah berdoa. Bersandar pada Tuhan.

Tapi sembilan tahun itu waktu yang terbilang lama untuk bertahan dari penguasa. Mungkin Tuhan memang ada, bersembunyi dalam alkohol yang sering Mas Wid minum. Mewujud dalam keberanian dan keteguhan.

“Mas, jaman sekarang melawan pemerintah itu soal biasa. Tapi yang sekarang Mas lawan kan bukan sekadar pemerintah, tapi keluarga Sultan.”

Oh ya, perusahaan tambang tadi bernama PT Jogja Magasa Mining. Komisarisnya adalah Gusti Pembayun, putri sulung Sultan HB X, dan pamannya GBPH Joyokusumo. Direktur utama dijabat BRM Hario Seno dari Puri Pakualaman. Perusahaan ini berkongsi dengan Indo Mines Ltd, sebuah perusahaan Australia. Mereka berencana menambang pasir besi di sepanjang 22 km pesisir Kulon Progo selama 30 tahun. Mengolahnya menjadi pig iron dan mengekspornya ke Australia.

“Masih banyak penduduk yang menganggap kalau keluarga Sultan itu baik tanpa noda. Apa penduduk yang seperti itu tidak akan menganggap petani di sini sebagai pihak yang salah dan kurang ajar?”

Mas Wid memandang saya lekat-lekat. Mulutnya sedikit terbuka tapi tak ada suara keluar. Kepalanya mengangguk-angguk samar. Wajahnya seolah menantang. Tapi lebih ke tatapan kalah.

Di depan warung, gelap, dan saya terburu pulang ke Yogya, saya memandang Mas Wid. Saya melihat orang kalah. Tapi ia keras kepala. Tetap bertahan. Dan apa yang lebih garang dari si kalah yang berkeras bertahan hidup?

Lahan yang hendak ditambang sebenarnya berstatus Sultan Ground. Tanah milik Sultan. Status nasionalnya telah diperjuangkan pihak kraton lewat UU Keistimewaan DIY.

“Tahun 2000-an, sebelum sini mau ditambang, Sultan itu juga ke sini ikut panen raya. Dia bilang ke seluruh warga, silakan gunakan tanah ini. Enggak perlu khawatir. Katanya omongan Sultan itu sabda pandita ratu tan keno wola wali, kalau sudah diucapkan berarti itu yang terjadi. Tidak boleh mbolak-mbalik. Lha kok sekarang begini. Katanya tahta untuk rakyat, lha sekarang kok rakyatnya mau dikorbankan buat kepentingan korporasi.”

Sudahlah, mari kita tidak perlu berdebat siapa benar siapa salah. Atau tentang baik dan buruk.

Pertanyaannya mudah. Di mana kamu akan berdiri?

Di sisi penguasa yang membantu korporasi meraup untung sebanyak-banyaknya, atau pada rakyat kecil yang garang berusaha bertahan hidup?

Kalau kamu tidak mampu memutuskan secara fisik, paling tidak secara moral. Kalau kamu tidak berani secara moral, kamu masih bisa berpihak melalui doa. Doa kecil pribadi yang kau lakukan sendiri di kamarmu.

Nah, aku ulangi sekali lagi pertanyaannya”

Di mana kamu akan berdiri berpihak?

Yogyakarta, 16-17 Agustus 2014
melalui malam proklamasi di depan komputer sanggar koebus

*tulisan ini dibuat berdasar buku karangan Widodo, “Menanam Adalah Melawan” dan ingatan akan kunjungan saya ke rumah beliau.

*percakapan yang ada adalah reka ulang, disesuaikan dengan ingatan saya yang terbatas, juga diterjemahkan bebas dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. tidak ada maksud untuk mengurangi atau menambah makna.

“Kalian datang dan hanya pengen tahu, setelah itu pergi lagi tanpa sepengetahuan kami. Seterusnya kalian hanya berbangga diri karena telah bisa datang di sini di tempat yang terjadi konflik. Setelah itu ya cuma sampai di situ, kami tidak pernah tahu setelah kalian pergi dari sini atau paling cerita konflik ini memang benar-benar hanya sepenggal cerita yang akan kalian ceritakan dengan bangganya di depan pacar kalian, yang hanya berpengaruh pada lawan jenismu itu, tapi bukan pada perjuangan kami. Memprihatinkan sekali, tidak jelas ideologi yang kalian bawa.”  – “Menanam Adalah Melawan” – Widodo

“Yah, gimana ya Mas Wid. Paling tidak saya enggak punya pacar untuk saya gombali tentang konflik teman-teman PPLP.” – Kurnia Harta Winata

menanam malwan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pohon Cabai yang Ditanam untuk Tumbuh Garang Menantang Kekuasaan

  1. GaL says:

    Hadhuh, sampai lupa tentang Kulon Progo, makasih sudah diingatkan lagi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s