Sujarmini Oh Sujarmini: Perundungan Saat SD yang Terbawa Sampai Dewasa


sujarminiAku melihat gadis itu suatu siang saat berjalan kaki di seputaran sekolah dasarku yang dulu. Tubuhnya kurus dan tinggi, kulitnya hitam. Bapak-bapak tukang becak yang mengetem di pinggir jalan menggodanya. Si gadis ketawa-ketiwi terus berlalu.

Aku tahu gadis itu. Aku kenal dia. Namanya Sujarmini.

Tiba-tiba rasa bersalah muncul. Ada dorongan dari dalam diriku buat menyapanya. Lalu minta maaf. Pasti akan aneh.

“Halo, masih ingat aku? Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan dahulu.”

Tapi aku tidak berani. Aku pilih diam saja mengamatinya. Sambil membuat apologi,

“Ah, paling dia sudah tidak peduli lagi. Kalau Tuhan ingin aku minta maaf, suatu hari aku akan melihatnya lagi. Saat itu, aku akan beranikan diri menghampirinya.”

***

Sujarmini adalah teman sekelas waktu SD. Awalnya biasa saja. Seperti anak-anak pada umumnya. Pacok-pacokan. Jodoh-jodohan. Celaka buat Sujarmini, dia yang paling jelek di antara siswi sekelas.

Paling jelek itu tidak berarti dia paling jelek. Itu artinya dia dicitrakan paling jelek. Wajar, Sujarmini hitam. Kurus kecil. Dekil. Seragamnya usang dan tidak pintar. Sekali lagi, Sujarmini dicitrakan jelek, tidak berarti ia jelek. Buktinya setelah dewasa ada tukang becak menggodanya.

Dipacoke, dijodohkan sama Sujarmini sebenarnya biasa saja. Tapi diolok-olok teman-teman yang lain itu tidak tertahankan. Jadi kami semua, para siswa, harus menjaga diri agar jangan sampai dijodohkan dengan Sujarmini.

Entah bagaimana, persoalan ini berkembang tidak terkendali. Jangankan tampak berdua, menyapa, atau menyebut. Melihat Sujarmini pun membuat kami diolok-olok.

Lebih dari itu, pernah saya diolok-olok karena menunjuk ke pohon mangga yang sedang berbuah dari jendela sekolah. Iya, itu pohon mangga di rumah Sujarmini. Rumah Sujarmini ada di dekat sekolah. Berada di gang menuju pintu sekolah. Malah sebenarnya tepat di luar pintu sekolah. Ibunya berjualan jajanan di depan rumah. Bapaknya tukang becak.

Coba kamu bayangkan jadi Sujarmini. Berangkat ke sekolah dan menemukan tidak ada teman lelaki yang mau berbicara dan menatapmu. Kalau berpapasan mereka menunduk, berpaling, menutupi pandangan dengan telapak tangan. Kalau kau disuruh guru ke depan kelas, mereka merunduk di meja masing-masing. Mendirikan buku di depan muka, memastikan orang-orang tahu bahwa mereka tidak akan melihatmu.

Itu tidak tampak seperti pernyataan kamu bodoh, jelek, atau lemah. Itu pernyataan kamu tidak pantas ada di dunia.

Dan perasaan apa yang lebih menyakitkan dibanding dilahirkan ke dunia tanpa meminta, tapi dianggap tak pantas berada di sana.

Untung pada akhirnya guru kami sadar betul apa yang terjadi dan bertindak. Saat itu Sujarmini berdiri di depan kelas untuk menyanyi. Dan guru kami marah pada kami.

Aku tidak merasa takut saat guru marah. Sejujurnya, yang ada adalah perasaan lega. Akhirnya kami bisa berhenti. Aku bisa berhenti. Menghindari Sujarmini tidak menyenangkan. Itu melelahkan.

Ini bukan sekadar soal Sujarmini. Tapi juga tentang siswa yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan karena takut pada tekanan teman-teman yang lain. Aku ragu kalau ada dari antara kami yang benar-benar ingin menyakiti Sujarmini. Rasanya ini berangkat dari sekadar lelucon biasa. Lelucon sehari-hari yang berkembang semakin dalam dan mengancam karena tidak ada satu pun di antara kami yang berani bersuara. Menolak. Maju berani jadi tumbal untuk diolok-olok. Sujarmini yang ketiban sial.

Singkat kata, kita bisa dirundung karena tidak merundung. Lalu kita merundung karena takut dirundung. Tidak harus ada si jahat di sini. Semua terjebak. Semua korban. Hampir semua sekaligus pelaku.

***

Melihat Sujarmini pada siang itu membawa ingatanku melintasi waktu. Pada hal-hal buruk yang aku lakukan hanya karena ingin diterima lingkungan. Mulai dari SD, SMP, SMA, sampai saat itu ketika aku kuliah di semester akhir.

Aku marah. Marah pada diriku sendiri. Pada diri yang lemah pada tekanan-tekanan lingkungan. Pada saat yang sama, kebencian muncul. Kebencian pada tekanan sosial dan segala sistem yang mendukungnya.

Ah, marah dan benci memang bersahabat akrab.

Tahun-tahun berlalu sampai aku belajar lebih banyak tentang perundungan (bullying). Membaca dan sadar bahwa trauma perundungan tidak hanya berlaku pada korban, tapi juga pada pelaku. Seperti saya pada Sujarmini.

Sepertinya Sujarmini menjadi salah satu faktor yang membuat saya begitu sensitif dan skeptis terhadap norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Terutama ketika orang menggunakan tekanan-tekanan yang ada untuk mempengaruhi orang lain. Ketika orang-orang menunjuk kepadaku atau kepada orang-orang yang lain;

Kalau kamu memandang Sujarmini, berarti kamu menyukainya. Dan itu menjijikkan.

Kalau kamu begini, berarti kamu begitu.

Kalau kamu tidak memperjuangkan apa yang kami perjuangkan, berarti kamu tidak meperjuangkan apa-apa.

Kalau kamu tidak mendukung apa yang kami dukung, berarti kamu mendukung keburukan.

Kalau kamu tidak berpikir seperti kami berpikir, berarti kamu bodoh.

Kalau kamu tidak melakukan yang kami lakukan, kamu bukan bagian dari kami. Dan kamu akan kesepian.

Kalau kamu tidak mampu memiliki hal-hal yang kami miliki, kamu tidak akan mampu berada bersama kami. Dan kamu manusia kelas bawah tak berharga.

Kalau kamu tidak meraih apa yang kami raih, kamu pecundang. Hidupmu adalah kegagalan.

Takutlah! Ayo merasa bersalah dan lakukan apa yang kami inginkan!!

Ha! Kamu menentang perundungan? Berarti kamu korban perundungan. Wajar sekarang kamu marah, itu kompensasi kelemahanmu di masa lalu!

Ha! Kamu mendukung pernikahan LGBT? Berarti kamu juga LGBT! Sebenarnya kamu sedang mendukung hak-hakmu sendiri!

Ha! Kamu melindungi orang utan? Berarti kamu juga orang utan!

Ha! Biarkan kami terus melakukan apa yang selama ini kami lakukan!!

Berdiri dan mengambil sikap secara mandiri adalah hal baik. Tapi kemarahan yang menyertainya membuat aku kadang bertindak secara berlebihan.

***

Tuhan begitu kejam. Ia tidak mau berhenti dengan hanya mengingatkan soal Sujarmini. Ia tidak mau berhenti sampai aku menghadapi diriku sepenuhnya. Menyadari diriku sesungguhnya.

Tuhan mempertemukan aku dengan Sujarmini lagi. Dan lagi. Dan aku masih tidak mampu menyapa dan meminta maaf.

Yogyakarta, Sanggar Koebus, 14 Oktober 2014
sudah lama ingin menulis ini, tapi berat rasanya mengaku dosa di depan umum
anggap saja ini sebagai ganti permintaan maaf pada yang bersangkutan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

22 Responses to Sujarmini Oh Sujarmini: Perundungan Saat SD yang Terbawa Sampai Dewasa

  1. Tobias says:

    “Ah, marah dan benci memang bersahabat akrab.”
    Jadi teringat kata2 ini:
    “Fear leads to anger, anger leads to hate, hate leads to..suffering”
    – Yoda

  2. antondewantoro says:

    Ingin rasanya kembali ke masa SD dan meminta maaf pada Sujarmini atau Sujarmono di SD ku dulu

    Aku benci blog ini karena biasanya bikin aku mikir atau sedih,…tapi yo tetep tak woco tekan bubar

  3. kenterate says:

    Tulisan yang membuat mbrebes mili. Selalu ada Sujarmini di setiap kelas atau komunitas karena pada dasarnya kita ingin merasa lebih superior dan caranya…. cari anak yang bisa kita buat inferior. Dulu di SDku namanya…ah, sudahlah.

  4. Blusky says:

    Tulisan yang jujur dan berani. Memang ga gampang jadi beda. Teruskan!

  5. GaL says:

    Minta maaf dong, sama Sujarmini…. Saia yakin itu bakal bikin dia senang, dan om Kur juga enteng. Kayaknya gak ada efek negatifnya, toh udah gak ada yang “menekan” lagi….

  6. Mamet says:

    Tulisan ini berkali-kali menyentil kuping saya. Kemudian, malah njewer >_<
    *ambil tisu, aku salah satu korban sekaligus pelaku, aku ngaku😥

  7. ah…menyesal bahkan aku membacanya sampai akhir oh sujarmini

  8. ian says:

    Selalu ada sujarmini di setiap kelas dan saya salah satunya selalu diolok2, diejek, diperlakukan seakan kita datang dari dunia lain hanya karena kita sedikit ‘berbeda’ dari mereka.
    Saya jadi penasaran apa orang2 yang dulu membully saya juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan mas penulis sekarang atau ga ya… Hmm…
    Pernah beberapa kali berpapasan sama mereka di jalan beberapa ada yang bersikap pura2 ga kenal tapi beberapa juga ada yang bersikap normal menyapa saya seakan kita teman lama.

  9. Pingback: Dari Jakarta Ke Jogja Kok Dibilang Mudik Ke Jawa | Kolom Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s