Kenapa Togua itu Logo Terbaik Buat Jogja


Jogja ingin dibranding, atau lebih tepatnya membranding diri. Beneran lho, saya tidak sekedar sok keminggris ketika menyebut kata “branding”. Ini pilihan kata yang mereka pilih sendiri. Ada tim penyusun strategi branding Yogya. Ada “ide city branding Jogja.”

Branding bisa kita sebut sebagai kegiatan membuat brand. Brand itu padanan bahasa Indonesianya merek. Berdasar KBBI, merek itu artinya;

me·rek /mérek/ n 1 tanda yg dikenakan oleh pengusaha (pabrik, produsen, dsb) pd barang yg dihasilkan sbg tanda pengenal; cap (tanda) yg menjadi pengenal untuk menyatakan nama dsb: pisau ini tidak ada — nya; 2 ki kegagahan; keunggulan; kualitas;
dagang Dag nama, simbol, gambar, huruf, kata, atau tanda lainnya yg digunakan oleh industri dan perusahaan dagang untuk memberi nama pd barang-barangnya dan membedakan diri dr yg lain, biasanya dilindungi oleh hukum;

Sedang kalau kita tengok wikipedia, kata “brand” memiliki arti;

Brand is the “name, term, design, symbol, or any other feature that identifies one seller’s product distinct from those of other sellers.”

Brand adalah, “nama, istilah, desain, simbol, atau bentuk lain yang mengidentifikasikan satu produk yang dijual dengan produk penjual lainnya.”

Sebagai tanda pengenal untuk menyatakan nama, Jogja jelas tidak butuh. Jogja itu kota, dan untuk sekedar membedakan nama kota satu dengan yang lainnya kita punya nama kota. Nama kota Jogja itu ya Jogja. Atau Yogyakarta.

Jadi maksud dan tujuan tentu jatuh ke definisi satu lagi. Sebagai simbol yang digunakan penjual untuk membedakan produknya dari produk-produk dari penjual lain.

Mari kita tekankan kata kuncinya: PENJUAL.

Jadi kalau kita dengar frasa “Jogja dibranding”, itu setali tiga uang dengan “Jogja didol.” Jogja dijual.

Rasanya baru kemarin warga Jogja ramai berkampanye dengan tagline “Jogja ora didol”.

Belum lama, warga Jogja, dan luar Jogja, ramai membicarakan Togua. Togua itu ya itu tadi, branding baru Jogja. Jogja membuat logo dan tagline baru untuk membranding diri. Logonya berwujud tulisan. Saking jeleknya, masyarakat memplesetkannya menjadi Togua. Ya memang bisa dibaca sebagai “Togua”, sih.

Polemik berkecamuk. Masyarakat enggak terima. Alasannya macam-macam. Ada yang manyun duit 1,5 milyar kok digunakan cuma untuk logo yang katanya lebih cocok buat dagang bakpia. Ada yang enggak terima karena bikin logo kok enggak dibikin terbuka, sambil berargumentasi bahwa orang jogja hebat-hebat kalau bikin logo.

jogja logo bakpiaSaya sih senang saja, habis lucu. Bikin logo mahal-mahal, eh dibenci. Lumayan buat bahan ejek-ejekan. Walau kadang kasihan betapa sedih hati si desainer yang bersangkutan. Tapi gayeng, bisa buat bahan pembicaraan menghibur.

Lalu ada ramai-ramai. Beberapa tokoh atau yang berhasil menokohkan diri bergabung dalam sebuah gerakan. Namanya urun rembug jogja. Mereka mau bikin logo tandingan, menunjukkan kalau Jogja tidak harus punya logo seburuk dan sekonyol Togua.

Gerakan mereka berhasil. Kini logo dan tagline Jogja akan dibuatkan sayembaranya. Enggak tanggung-tanggung, ada duitnya. Tidak sedikit. Total 200 juta rupiah disediakan  untuk hadiah. Tokoh-tokoh yang angkat bicara soal Togua ikut mengurus sayembara ini. Tertulis sebagai relawan. Namanya keren, tim 11.

Jadi ingat jaman TVRI dulu. Mirip ketoprak saja, ada sayembaranya.

Lho, ini memang mirip ketoprak!

Baru berapa lama sudah lupa sama “Jogja ora didol”. Iya, beberapa orang-orang itu, yang tergabung dalam kesebelasan melawan Togua, dulu juga yang meneriakkan “Jogja ora didol”. Bahkan ada yang sampai bikin lagunya segala, judulnya sama “Jogja ora didol”.

Ngomong tidak mau menjual Jogja tapi mengusahakan brand Jogja yang lebih baik itu kan lucu. Tidak mau menjual Jogja tapi membantu usaha jualan Jogja.

Tahu gini dahulu baiknya saya mendukung Togua. Kalau Jogja harus punya logo, saya lebih suka logo yang sejelek-jeleknya. Yang segagal-gagalnya.

Ben ra payu! Biar enggak laku!

Karena yang kita butuhkan adalah kota yang lebih baik. Bukan logo atau simbol yang lebih baik.

Yogyakarta, 21 November 2014
kemarin malam ngedumel berat, kalau nulisnya ini kemarin pasti lebih banyak makian

tulisan terkait
https://kurniahartawinata.wordpress.com/2014/05/11/kota-yang-dijual-seharga-ac-untuk-tempat-sampah/

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kenapa Togua itu Logo Terbaik Buat Jogja

  1. antondewantoro says:

    Kalau berkaca pada iklan Mastin, iklan yang jelek justru membuat orang punya kewaspadaan merk (brand awareness) terhadap produk kulit manggis secara keseluruhan tidak hanya Mastin. Jadi togua sebagai branding yang jelek mungkin efeknya tetap akan postif terhadap jogja. Jadinya jogja tetap sido didol.

    Yang menarik bagi saya adalah justru munculnya gerakan bawah tanah yakni : JOGJA ORA DILDO ! (boleh diedit kalau takut terbaca anak kecil karena bisa berakibat repot menjelaskannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s