Dari Jakarta Ke Jogja Kok Dibilang Mudik Ke Jawa


Benar-benar tidak masuk akal bagi anak yang baru saja belajar perkalian dan pembagian saat melihat soal trigonometri. Itu yang terjadi pada saya saat SD melihat buku catatan kakak.

Matematika kok enggak ada angkanya.

Lebih ajaib lagi, saat merasa berjaya mulai paham apa itu trigonometri, saya mengintip buku kakak yang mulai belajar kalkulus di bangku kuliah.

Mosok jawaban matematika masih berbentuk satu renteng kaya gitu.

***
rumah perspektif
Ya, begitulah kenyataan. Untung juga punya kakak sehingga saya bisa mengintip-intip pelajaran beberapa langkah ke depan. Tidak mesti dalam ilmu pasti. Demikian pula dalam bidang seni, semisal gambar menggambar. Saya tahu tentang perspektif lebih dahulu dari teman-teman SD yang lain.

Saat teman-teman bersemangat mengejek, sebut saja Santi karena saya tiba-tiba lupa namanya, yang menggambar rumah dengan garis-garis miring, saya cuma terdiam. Saya kenal garis-garis itu, garis-garis perspektif.

“Wahahaha…rumahnya mleyot-mleyot!” tawa teman-teman.

Tapi saya diam saja. Takut membela. Takut ikutan diejek. Bukan tindakan terpuji memang. Tekanan teman terlalu mengerikan. Jadi begitulah, saya diam saja waktu Santi diejek karena berbuat benar. Berilmu lebih maju dari kawan-kawan.

***

Geregetan banget waktu dahulu ibu kos bilang,

“Oh, mau balik ke Jawa?”

Ealah, saya ini dari Jakarta mau mudik ke Jogja kok dibilang balik ke Jawa. Memangnya Jakarta itu ada di pulau mana. Ibu kos yang sudah mbah-mbah itu tidak sendiri. Banyak lho orang Jabodetabek yang menyebut Jawa Tengah dan Jawa Timur itu sebagai Jawa. Bodo banget enggak, sih!?

Selama itu saya anggap “mudik ke Jawa” itu adalah arogansi orang-orang Jakarta yang tidak mau disamakan dengan penduduk Jawa lain.

Sampai saya menemukan kalimat “Pulau Jawa terbagi menjadi dua, tanah Pasundan dan tanah Jawa” di buku Nusa Jawa Silang Budaya karya Denys Lombard, seorang peneliti sejarah yang memfokuskan diri pada daerah Asia Tenggara. Rupanya begitu. Pulau Jawa memang bisa dibilang terpisah ke dalam dua pihak yang saling membenci. Dinasti Mataram di sisi tengah dan timur, dan dinasti Banten di sisi barat. Mataram yang dikenal dengan pusat budaya “Jawa” dan Banten yang dikenal sebagai pusat budaya “Sunda”. Tanah Jawa dan tanah Pasundan.

Pemisahan kedua tanah ini tentu sudah terserap jauh ke dalam memori kolektif masyarakat Jakarta (dan Jawa Barat). Sama seperti masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan mudah mengasosiasikan Jawa Barat sebagai Sunda. Cuma persoalannya, “Jawa”dalam pengertian tanah Jawa kebetulan memiliki kata yang yang sama dengan “Jawa” dalam pengertian pulau Jawa.

***

Ternyata saya yang arogan karena menganggap orang lain arogan. Saya yang goblok karena menganggap orang lain goblok. Gawatnya, saya sering dan mudah menganggap orang lain bodoh. Jangan-jangan semua yang tampak bodoh itu bodoh bagi saya karena ilmu saya yang belum sampai. Seperti anak yang baru saja bisa perkalian dan pembagian memandang soal kalkulus.

Matematika kok enggak ada angkanya!?

Yogyakarta, 15 Desember 2014
nge-blog di kala santaiii….

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dari Jakarta Ke Jogja Kok Dibilang Mudik Ke Jawa

  1. antondewantoro says:

    Yang jelas saya ngakak waktu anda pamitan ke Bang Icin dengan logat medhok ” Bang, Mari bhuang”…lalu anak-anak kecil yang semula asyik bermain di got tertawa terbahak – bahak, demikian pula saya.

    Lalu anda tidak menganggap saya teman lagi sejak itu, kita terpisah sebagai Jawa dan non-Jawa , seperti Hutu dan Tutsi

  2. Black_Claw says:

    Tenang, tidak arogan-arogan amat, kok. Bagi orang di luar PULAU Jawa, Jakarta itu Jawa.
    Coba dengar lagunya Art2tonic, Makassar Bisa Tonji.šŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s