Kuku Jempol Cuka


Cuka jarang mandi. Susah. Dia marah kalau dimandikan. Rewel. Melolong-lolong melonjak-lonjak. Membuat khawatir, bagaimana kalau ia melonjak-lonjak, lalu terpeleset jatuh, kesleo, atau patah tulang. Tahu kan, orang tua itu musuhnya adalah terpeleset di kamar mandi. Anjing tua bisa jadi tak jauh beda.

Sesudah riuh rendah seperti hendak dipotong, baru ia bisa dimandikan dengan tenang. Tenang tidak berarti mudah. Karena ia ndeprok. Duduk ngesot kelelahan. Bagaimana membersihkan pantat dan kakinya kalau ia sudah pasang pose begitu.

Susah. Memandikan Cuka harus pakai trik khusus. Juga rasa tega menghadapi ia kepayahan seperti itu. Karenanya Cuka jarang mandi. Kalau bau, ya dimaklumi. Toh, malas juga memandikan anjing. Apalagi anjing rewel berbulu panjang. Repot.

Cuka sudah tidak bermain. Berdiri aja susah. Apalagi kalau dipaksakan, digoda biar mau bermain maksudnya, nanti ia akan berlari ketumak-ketumuk terus nabrak. Namanya juga setengah buta.

Kalau dielus-elus saat sedang tidur, besar kemungkinan ia akan kaget. Lalu bersusah payah berusaha berdiri, bangun dengan goyah. Agak lama baru bisa berjalan dengan lancar. Hilir mudik. Kalau tidak kemudian rewel, ya tidur lagi.

Interaksi kami terbatas. Sungguh beda dengan dulu saat saya bisa ngusel-ngusel dia sebebas-bebasnya. Apalagi jaman ia masih kecil, tinggal tarik saja dari kolong.

Di penghujung tahun baru, Cuka mandi. Di penghujung mandi, ia tersungkur tak kamu berdiri. Harus digendong keluar dari kamar mandi. Habis itu pun, dia tetap tersungkur tak bergerak sama sekali. Lama. Tapi tak apa, saya sudah cukup lama kenal. Sehingga tahu kalau itu terjadi lebih banyak karena ia jengkel alih-alih karena lelah. Lelah pasti, jengkel lebih-lebih. Pundung. Mutung.

Horor sebenarnya terjadi setelah itu. Jangan kuatir. Enggak horor-horor amat, kok.

Bulu di kaki kanannya tampak hitam, kontras dengan bulu bagian tubuh lainnya yang sudah bersih. Saya mengenali warna itu. Warna darah kering.

Ada bau lain di luar bau wangi shampoo yang ia pakai. Bau asing dan tentunya bukan kabar baik.

Saya temukan darah basah di sekitar kuku jempol. Ada terduga nanah besertanya.

Diagnosa: kuku jempolnya tumbuh terlalu panjang, melingkar, sehingga menusuk dagingnya dari belakang.

Sialan! Ini pernah terjadi sebelumnya! Cuma tidak parah, tidak sampai jadi luka yang mengeluarkan darah dan nanah. Soal seperti ini seharusnya bisa diantisipasi!!

Saya merasa menjadi majikan yang buruk. Buruk sekali.

Lukanya tidak kelihatan. Terlalu banyak bulu yang menggumpal hitam di sekitarnya. Untungnya Cuka tampak biasa-biasa saja. Cuma tak mau kalau diperiksa kakinya. Kalau dipaksa, marah dan kesakitan.

Tiap hari, sedikit demi sedikit, bulu sekitar luka digunduli. Sedapatnya. Serelanya Cuka. Sampai suatu saat kukunya bisa terlihat dan berhasil digunting. Masalahnya, kuku itu tetap tidak berhasil diambil. Entah masih menancap atau terjerat bulu kusut.

Tapi lukanya tetap basah. Tiap jempolnya goyang karena disentuh, ada darah dan nanah keluar. Baunya tetap mengindikasikan luka yang berbahaya.
kuku cuka
Kami menyerah dan akhirnya berhasil mengundang dokter hewan ke rumah.

“Oooh, iya. Anjing jenis ini memang pemarah,” kata dokter saat melihat Cuka.

Saya mendekap Cuka kuat-kuat saat dokter memeriksa kakinya. Cuka melolong-lolong sementara ibu saya menyingkir tak berani melihat.

Benar kuku berhasil dipotong. Tapi potongan itu masih menancap, hampir satu senti ke dalam daging. Hampir tembus ke depan. Tidak cukup dengan mengambil kuku yang menancap, luka Cuka harus dibersihkan dari bulu-bulu yang ikut masuk. Dokter mengobok-obok rongga merah kecil di kaki mungil. Darah di mana-mana. Di tangan dokter, di bajuku, di celanaku, di tanganku, di kakiku, di lantai, di kaki cuka yang ada di pelukanku.

Sekarang luka Cuka sudah sembuh. Belum sempat saya amati dengan baik, tapi ia sudah tidak kesakitan kalau kakinya saya pegang.

Sedang saya masih merasa menjadi majikan yang buruk. Atau bukan merasa, tapi memang majikan yang buruk. Padahal saya sayang. Kenapa bisa saya lewatkan soal seperti itu. Kuku-kukunya yang lain sudah panjang. Seharusnya saya bisa menduga. Seharusnya saya sudah waspada.

Semasa masih di perantauan, pernah terjadi hal macam ini. Saya mudik dan mendapati ada bisul besar di bagian dalam kuping Cuka. Orang tua di rumah memang tidak punya cukup waktu bermain bersama Cuka. Bagian dalam telinga luput dari perhatian.

Kurang perhatian.

Kuku jempol Cuka, yang tumbuhnya pelan-pelan itu, yang tidak mungkin ujug-ujug tiba-tiba jadi panjang, mengingatkan akan kurangnya perhatian saya.

Mungkin sekali saya bukan hanya majikan yang buruk. Tapi juga anak yang buruk. Teman yang buruk. Rekan kerja yang buruk. Warga yang buruk. Dan bukan tidak mungkin besok, orang tua yang buruk. Yang tidak memperhatikan dan mewaspadai perubahan-perubahan kecil dalam interaksi keseharian. Yang sepele namun menjadi indikasi atau pemicu masalah besar dan berbahaya.

Bukan karena tidak peduli. Atau klise tak punya waktu. Bukan. Mungkin malah karena takut mengganggu, takut membuat marah, tidak tega, ingin memberi waktu dan kebebasan.

Toh pada dasarnya Cuka itu senang diganggu juga. Dahulu, sewaktu masih aktif, kalau lama tidak diganggu, dia yang hilir mudik menggoda. Sekarang pun masih begitu, kalau sekiranya lama tak dipegang, dia akan hilir mudik seolah tak sengaja menyentuhkan anggota tubuhnya ke kaki.

Kami sudah cukup lama berinteraksi sehingga mengerti apa yang ia maksudkan. Segala tipu daya atau pura-puranya. Seperti waktu ia mangkrak habis mandi. Orang lain mungkin panik melihat ia lunglai tak bergerak. Tapi kami tidak.

Sayangnya, seperti yang sudah kuku jempol Cuka tunjukkan, itu semua tidak cukup.

Apalagi kalau cuma rasa sayang. Sekedar sayang tidak akan pernah cukup.

Sanggar Koebus, Yogyakarta, 3-4 Februari 2015
Yaaah, tidur terlalu larut lagi ini. Tapi kalau tidak dipaksa begini, tidak akan kunjung kembali menulis blog.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kuku Jempol Cuka

  1. GaL Pratiwi says:

    Sudah. Gak bisa komen. Air mata berlelehan

  2. Yemimaria says:

    Sayang cuka walau tak pernah jumpa, hanya Bisa menanyakan kabarnya. Mungkin benar kata sebuah surve jika pria yg punya anjing lbh bnyk wanita yg mendekati. Bisa di artikan juga saya terus bercengkrama dengan anda karena cuka. Menghabiskan detik menit jam tak produktif saya dengan menikmati hasil “produktifitas” anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s