Petugas PLN yang Membantu


Motivatologi_049Sekitaran Mei 2013, listrik rumah mati. Meteran pra-bayar kami rusak, kemungkinan ada kucing tetangga yang nakal. Mika penutup MCB patah. Kami telepon layanan PLN untuk masalah ini. Keluhan kami cepat ditangani. Petugas PLN datang memperbaiki sambungan. Katanya,

“Ini dilangsung dulu. Untuk sementara yang penting bisa dipakai. Nanti kami kembali lagi.”

Begitu janji petugas PLN. Jadi sementara waktu kami tidak perlu bayar listrik. Tapi petugas PLN tak datang jua. “Sementara waktu” yang dijanjikan menjadi “waktu yang lama”. Setahun lebih kami tak perlu menambah token listrik.

Jadi kami mengeluh lagi ke PLN,

“Sudah setahun lebih kami tidak bayar listrik!”

Ternyata sistem pengaduan PLN terbangun dengan baik. Mbak petugas menanyakan nomor pengaduan kami waktu lalu. Kami tidak mencatat. Jadi ia menanyakan nomor pelanggan dan kira-kira kapan kami mengadu. Ternyata ketemu juga pengaduan kami saat itu.

Sayang sehabis pengaduan itu tidak ada petugas yang datang. Kami malas mengurus kembali. Kan enak, tidak perlu bayar. Tapi kami tidak lupa mencatat nomer pengaduan kami barusan. Siapa tahu kalau besok PLN menuduh yang bukan-bukan, kami bisa bilang, “Kami sudah mengadu, lho.”

Beberapa bulan kemudian, akhir tahun 2014, tegangan rumah naik turun seperti dongkrak. Lampu kedap kedip seperti ada hantu lewat. Coba-coba, kami mengadu.

Petugas datang. Datang-datang langsung ke meteran. Segel dilepas meteran diperbaiki. Memperbaikinya cuma mengelem plastik dudukan baut yang patah. Terus ketika sudah mau selesai,

“Lho, ini dilangsung ya Mas?”

Saya menerangkan kronologi kejadian. Termasuk menyebutkan kalau kami sudah mengadu kalau tidak bayar listrik dalam waktu yang lama.

“Waaah, ini kalau saya laporan nanti Mas-nya bisa kena rata-rata. Kemarin sebulan bayar berapa?”

Saya jawab kira-kira harga sebenarnya, walau tahu akhir-akhir itu harga listrik naik tinggi.

“Nah, itu nanti dikali…sudah berapa bulan?”

Hitung punya hitung, muncul nominal yang besar untuk sekali bayar.

“Bagaimana? Berat enggak?”

“Wah, berat juga kalau harus langsung segitu!” jawab saya sambil mengendus bau-bau tak sedap.

“Apa begini saja, saya bantu. Mas-nya bayar setengah saja. Nanti bisa saya atur agar normal kembali.”

Wow!

“Tapi dahulu saya sudah lapor kalau tidak bayar, nanti ketahuan.”

“Tenang, nanti saya bisa atur laporannya.”

Saya mengingat-ingat berapa rupiah saldo rekening kami.

“Enggak usah Pak, terima kasih. Takut ketahuan,” jawab saya pura-pura.

“Bener ini, nanti saya buat laporan apa adanya lho!”

“Iya Pak.”

“Ya sudah kalau enggak mau,” ujar petugas PLN tetap ramah.

Duh, saya bisa membusungkan dada sok-sokan berintegritas menolak kecurangan. Tapi itu karena saya punya uang yang cukup. Kalau saat itu keuangan saya pas-pasan, mungkin saya membiarkan diri “dibantu”.

Sudah lewat dua tiga bulan. Tidak ada permintaan untuk membayar “rata-rata” dari PLN. Mungkin petugas PLN sibuk berusaha “membantu” pelanggan yang lain.

Yogyakarta, Sanggar Koebus, 12 Maret 2015
hujan-hujan dingin sambil minum perasan jeruk nipis hangat

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Petugas PLN yang Membantu

  1. TnP Center says:

    Waaahhhhh…. Listriknya gratisan niy… xixixi…

  2. Ina says:

    Ternyata masih banyak orang baik di sekitar kita ya, bagaimana agar pikiran ini terus berbaik sangka dengan orang lain?

  3. Aku dolan nggonmu nunut ngecas HP, Letop, karo nunut urip sisan yo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s