Kisah-Kisah yang Ditolak dan Kisah-Kisah yang Tumbuh lalu Berbuah


kisah-kisah yang ditolakSaya terpukau dengan peringatan Anthony de Mello di awal bukunya, “Doa Sang Katak”. Buku ini berisi anekdot-anekdot lucu yang memiliki kedalaman makna. Judul lengkapnya, “Doa Sang Katak – Meditasi dengan Cerita”

“Mereka tahu menolak kebenaran adalah biasa, tapi menolak suatu cerita adalah tak mungkin.”

Saya yang cinta dunia cerita memegang erat kalimat di atas. Sampai suatu ketika film “Tanda Tanya” besutan Hanung Bramantyo muncul dan membuat saya tertegun.

Bukan karena filmnya. Sampai sekarang saya belum pernah nonton. Tapi bagaimana ada sekelompok masyarakat (yang sama-sama belum nonton) bisa menolak cerita yang ada di film itu. Menolak sebuah kisah yang jelas-jelas fiksi? Sungguh saya tak habis pikir.

Salah satu kisah yang ditolak adalah saat Surya, tokoh dalam film yang beragama Islam, berperan sebagai Yesus yang disalib. Penolakan terhadap cerita ini jadi lucu karena saya tahu seorang teman Hanung yang kadang turut membantu produksi film-filmnya benar-benar pernah melakukan itu. Muslim, namun berperan sebagai Yesus disalib dalam prosesi kristiani. Maklum, tampangnya memang persis Yesus.

Menolak cerita memang lebih mudah dari menolak kenyataan. Kenyataan atau kebenaran bisa membuat benci dan takut, namun menolaknya seperti menyangkal diri sendiri. Seberapa keras kita menyangkal, ia tetap ada di sana. Semakin jauh kita menolak, semakin sakit saat ia mendekat.

Tetapi cerita bisa diubah. Kita bisa menuntut dan mengancam pembuatnya. Ganti! Kita bisa menutup media sehingga cerita tak dapat dinikmati. Hapus!

Maka cerita-cerita seperti yang dimaksud Anthony de Mello tersingkir. Cerita-cerita yang ibarat benih. Menyusup dalam pikiran, tumbuh sebagai pemikiran, berbunga sikap dan perbuatan. Buahnya menjadi berkat bagi yang lain, dan darinya benih-benih baru menyebar.

Cerita yang hidup itu diganti cerita yang mati dan kaku. Cerita yang dibuat tidak untuk menyelip dan tumbuh. Tapi dipakai seperti baju. Untuk pamer, dipertontonkan labelnya. Sekaligus menutupi aslinya wujud diri. Semakin lama ia tidak tumbuh membesar dan menjadi berkat, tapi ia akan segera usang dan minta diganti yang baru.

Dalam wujudnya yang paling banal, ia menjelma berupa cerita-cerita nasehat yang menggampangkan.

“Apa yang kamu lakukan itu buruk, jadilah orang baik!”

“Oooh iya, kamu benar sekali. Aku tobat, dan mulai sekarang akan melakukan apa yang kamu sarankan! Terima kasih seribu!! Aku terselamatkan.”

Si pembuat baju merasa berjasa telah memberikan sesuatu untuk orang lain. Pas dengan ukuran dan model yang diinginkan pembeli. Tapi sungguhkah baju ini sampai pada yang telanjang dan kedinginan, seumpama wisatawan bencana yang membawakan mie instan pada korban yang hampir mati kehausan. Atau cuma masuk daftar belanja konsumen yang selalu ingin tampil modis dan trendy.

“Lihat aku, aku baca buku religi! Aku tampak suci dan bersih diri!” Bisa jadi sebenarnya aku orang bingung tapi tinggi hati.

“Lihat aku, aku baca buku motivasi! Aku calon orang sukses dan kaya sampai mati!” Bisa jadi sebenarnya aku putus asa dan rendah diri.

“Lihat aku, aku baca buku kiri! Aku pembela rakyat miskin walau makan di McD!” Bisa jadi sebenarnya aku borjuis yang gagal jadi petinggi.

“Lihat aku, aku tulis artikel yang sinis ini!” Bisa jadi sebenarnya aku cuma iri dan dengki.

Yogyakarta, 10 Juni 2015
Wow, sudah lama tak menulis untuk blog ini

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Kisah-Kisah yang Ditolak dan Kisah-Kisah yang Tumbuh lalu Berbuah

  1. Benny Kirana says:

    Saya punya temen, ada saja yang dia pamerin setiap bulannya, terutama gadget dengan model dan keluaran terbaru. Tapi stelah itu selalu saya yangrepot, repot setting dan utak-atik gadget barunya.

    Sementara saya bukannya tidak ingin punya gadget baru atau gonta ganti gadget setiap bulan, mungkin karena saya terlalu perhitungan dan pelit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s