Pertanyaan Kapan Nyusul yang Sering Muncul Seperti Bisul


10500573_10153153539913742_4147532775654348527_nLibur lebaran lalu saya menghadiri resepsi pernikahan sepasang teman. Peristiwa klasik terjadi saat menyalami mempelai. Pertanyaan:

“Kapan nyusul?”

Saya tahu akan berlebihan jika tersinggung karena itu. Namanya juga bercanda. Tapi berhubung saya sedang ingin menulis blog dan bingung cari bahan, mari kita tanggapi ini secara serius. Toh orang tidak bisa seenaknya berlindung terus di balik perisai bercanda.

“Agamamu sesat dan Nabimu palsu!”

“Appaaah?”

“Hahaha, cuma bercanda kok!”

Enggak bisa begitu bukan? Tentu tidak. Paling tidak tidak di tulisan ini.

Apa perlunya bertanya kapan nyusul?

Mari kita mulai dengan berprasangka buruk. Pertanyaan kapan nyusul oleh mempelai kepada tamu memang sengaja digunakan untuk menyakiti hati. Apalagi kalau bukan begitu. Dengan jahatnya mereka berlindung di balik status “yang empunya hajat”. Status sosial mereka saat itu adalah “yang berbahagia”, sedang tamu berstatus “yang mengucap selamat berbahagia”.

Jadi bila mempelai mencoba menyakiti hati tamu dengan bertanya, “Kapan nyusul?”, tamu tidak bisa seenaknya membalas seperti percakapan di bawah ini:

“Kapan nyusul?”

“Nyusul siapa?”

“Nyusul kami, dong!”

“Oh, tidak tahu. Kalau kalian kapan nyusul?”

“Nyusul siapa?”

“Nyusul (sebutkan nama pasangan yang baru saja bercerai – kalau perlu karena KDRT).”

Walau perseteruan dimulai oleh mempelai, tetap saja masyarakat akan memandang tamu lebih kejam karena status sosial tadi. Tamu ada di posisi serba salah.

Mari kita lanjutkan ke prasangka selanjutnya. Prasangka netral. Pertanyaan “Kapan nyusul?” ditanyakan karena sekedar bertanya saja.

Ini berarti bahwa mempelai memandang bahwa menikah adalah sebuah pencapaian. Nah, dengan begini mempelai seolah menyatakan, “Kami sudah berhasil nikah. Kamu belum. Pencapaianmu di bawah saya.”

Sayangnya dalam kehidupan ada pencapaian-pencapaian lain selain menikah. Misal seperti percakapan di bawah ini:

“Kapan nyusul?”

“Nyusul apa?”

“Nyusul nikah?”

“Oh, tidak tahu. Kalau kalian kapan nyusul saya?”

“Nyusul apa?”

Karena kebetulan mempelai masih tinggal numpang di mertua atau ipar, maka si tamu bisa saja berkata,

“Nyusul punya rumah.”

Lho kok gitu? Menikah adalah fase kehidupan, tidak bisa dibandingkan dengan pencapaian material seperti punya rumah atau mobil.

Tapi kalau pun menikah dianggap sebuah pencapaian telah melalui suatu fase hidup tertentu kenapa yang telah menikah dua kali (karena pernikahan pertama berujung perceraian) tidak pernah bertanya “Kapan nyusul?” kepada yang baru menikah sekali.

Tidak, walau memang tidak diniatkan untuk menyakiti hati tamu – mempelai memang berniat sombong. Sayangnya masyarakat kita lebih mudah memaklumi kesombongan atas “melewati fase hidup” dibanding dengan kesombongan akan penguasaan materi.

Sekarang kita sampai ke pembahasan menggunakan prasangka baik. Pertanyaan “Kapan nyusul?” digunakan sebagai tanda empati. Merasa tak enak, kami berpasangan sedang situ masih sepi sendiri.

Ah, omong kosong! Empati itu artinya turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sedang “Kapan nyusul?” itu berarti – rasakan apa yang saya rasakan, tapi aku masa bodoh dengan perasaanmu. Coba cek saat mempelai itu melayat orang tua teman yang meninggal. Apakah mereka bertanya,

“Kapan orang tuaku nyusul?”

Enggak, kan?

Lagi pula kalau memang mengharap agar tamu dapat merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan, bukannya bertanya “Kapan nyusul?” mereka akan mengucap “Semoga menyusul!”.

“Semoga menyusul!”

“Menyusul siapa?”

“Kami, dong!”

“Emang siapa yang ingin punya kehidupan seperti milik kalian?”

Emang yang bisa berbahagia itu cuma yang sudah menikah?

Omong kosong! Kebahagiaan itu bisa jadi milik siapa saja tanpa memandang status. Mungkin lain kali perlu kita selipkan ke dalam amplop sumbangan, artikel atau statistik angka perceraian, angka perselingkuhan, atau angka kekerasan dalam rumah tangga.

Jadi kalau mempelai masih saja bertanya, “Kapan nyusul?”, si tamu bisa menjawab dengan senyum di bibir dan gelak tawa di hati.

Yogyakarta, 26 Juli 2015
Sore-sore jam-jam tidur siang

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Pertanyaan Kapan Nyusul yang Sering Muncul Seperti Bisul

  1. TnP Center says:

    Kapan nyusul? Nanti kalau angkot lewat xixixi…. Atau nunggu The Flash lewat…πŸ˜€

  2. ning says:

    saya ke gereja buat ketemu sm sodara2 yg seiman, ya namanya jg persatuan yg percaya, paling gampang ya isinya dengan mengenang si Tuan Jalan yg diimani.. kl ndak pernah ketemu sama sodara seiman, ya apa bisa peduli.. walaupun Jalan Kebenaran itu ndak pernah meminta kita hanya peduli sm sodara seiman thok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s