Saat Kamu Tidur Dengan Tenang dan Aku Terjaga Kesepian (Sebuah Obituari)


406272_10150409299517127_1398407904_nKemarin sore aku membuat janji dengan maut.

Siang tadi aku mengubur jenazah anjing tersayang.

Cuka datang pada petang, 8 Maret 2000. Kecil, berbulu, kepalanya muncul dari tas kain yang diselempangkan ke bahu.

Aku kecewa pada pandangan pertama. Ia tidak memancarkan sesuatu yang menyenangkan. Sehari dua hari kemudian baru aku sadar, ia begitu karena lelah perjalanan. Dari Solo sampai Jogja, ia ada di dalam tas kain. Sejam perjalanan dengan kereta prameks.

Ia diantar langsung oleh keluarga sebelumnya. Mbak Lia, teman kakak. Cuka berumur tiga bulan. Panjangnya tidak sampai selengan. Aku ingat persis karena aku menggendongnya saat itu.

Nama Cuka sudah melekat dari keluarga pertamanya. Dari kata coklat yang disederhanakan. Warnanya tidak benar-benar coklat. Lebih tepat kalau krem. Ujung-ujung kuping dan ekornya saja yang coklat. Lia menawarkan kami untuk mengganti nama Cuka. Kami menolak. Kasihan, nanti si anjing kecil bingung.

Tidak lama untuk tahu bahwa Cuka adalah anjing yang amat teramat pintar. Hanya butuh seminggu mengajarinya untuk buang air di tempat yang kami tentukan. Tentu saja dengan pujian dan hadiah tiap kali ia melakukannya. Sepertinya itu membuat kebiasaan lapor tiap kali buang air. Kebiasaan yang bertahan sampai ia tua. Bertahun-tahun setelah tidak ada lagi hadiah untuk buang air pada tempatnya.

Suatu malam di ruang keluarga, saat Cuka mengemis-ngemis makanan, kami menemukan ternyata ia tahu semua nama atau sebutan di keluarga kami.

“Minta mamah saja!” sambil mengusir-ngusir. Cuka benar-benar pergi ke mama. Kami coba ke setiap anggota keluarga. Ya ampun, ia tahu nama-nama kami.cuka

Bukan saja mengenal nama, ia tahu persis karakter kami satu persatu. Ia membagi kami dalam kategori. Siapa yang gampang dimintai makanan, siapa yang asyik diajak mainan, siapa yang enak mengelus perut, siapa yang bisa disuruh membuka pintu kamar.

Kosa kata Cuka sangat banyak. Mam’mam, minum, pipis, e’ek, bobok, main, sini, sana, sudah, habis, mandi, cebok, kucing, tikus, dan masih banyak lagi.

Ia mengenal semua sebutan yang kami sematkan padanya. Cuka, asu, anjing, mbak, pailul, bahkan ibu sering memanggilnya dengan siulan nada tertentu. Dan ia akan mendengarkan tiap kami kami membicarakannya. Persis seperti orang yang tahu kalau sedang digunjingkan.

Cuka adalah anggota keluarga. Ia mengisi rumah kami dengan aroma, kerepotan, keceriaan, dan rasa sayang.

Anjing melekat pada rumah, tapi pemiliknya tidak. Aku merantau untuk bekerja selama lebih dari tiga tahun. Pada saat-saat itu aku lebih rindu Cuka daripada rindu pada orang tua. Cuka yang tercenung saat ada yang berkemas dengan tas-tas besar. Cuka yang akan duduk menanti menghadap pintu saat diberitahu kalau akan ada yang pulang. Cuka yang histeris gembira saat ada yang pulang dari jauh.

Saat aku kembali tinggal di Jogja, Cuka tampak jauh lebih tua. Ia sudah tidak sigap lagi naik dan turun tangga. Tidak lama kemudian ia sakit parah. Kami berpikir bahwa umurnya bisa sampai segitu saja.

Tapi Cuka sembuh. Dan tampak sehat. Hanya saja sakit yang satu kemudian diikuti sakit berikutnya. Memanggil dokter hewan ke rumah jadi terasa biasa. Aku juga jadi terbiasa dengan hal-hal yang sebelumnya pasti terasa aneh. Membersihkan, memegang kotoran Cuka dengan tangan telanjang. Atau menyuapinya dengan makanan yang sudah aku kunyah terlebih dahulu.

Di masa-masa itu muncul kesadaran bahwa anggota keluarga kami itu bisa pergi sewaktu-waktu. Pergi dan tidak lagi akan bertemu.

Dalam kesadaran itu, aku mulai memperlakukan waktu bersama Cuka dengan berbeda. Tiap kali aku memeluk, tiap kali kami bermain, tiap kali aku merasakan lembut bulunya, tiap kali aku menghirup baunya, aku selalu ingat bahwa itu mungkin yang terakhirpelukan terakhir.

Aku menikmatinya sungguh-sungguh. Aku  mengukirnya dalam-dalam, digores pada ingatan. Aku biarkan waktu berhenti.

Kesehatan Cuka semakin buruk. Penglihatannya yang terus berkurang. Kakinya, terutama kaki belakang, semakin kaku dan lemah. Tidak dapat menekuk dengan baik. Ia mudah jatuh atau terpeleset. Kami berhenti bermain bersama.

Katarak Cuka semakin tebal. Pijakannya semakin lemah. Kami harus menungguinya makan. Menahan kakinya agar tidak melorot. Mengarahkan piring yang sudah tidak ia lihat lagi. Juga menyuapkan makanan ke mulutnya ketika ia sudah kesulitan mengambil makanan dari piring. Jam makan Cuka jadi jam wajib saya untuk berada di rumah. Tidak bisa ditinggal kecuali kalau memang perlu – tugas menyuapi digantikan oleh ibu.

Bulan demi bulan kami menyaksikan kondisi Cuka terus menurun. Ia butuh waktu lama untuk bangun. Tidak kuat lagi berdiri diam. Tubuhnya bergoyang saat melangkah. Kadang ia jatuh begitu saja.

Cuka yang cuma butuh seminggu untuk belajar buang air itu kini hampir selalu buang air di dalam rumah. Tapi apa yang bisa kami lakukan, berpindah tempat saja ia susah.

Ketika ia semakin sulit bangun dan semakin mudah jatuh, Cuka jadi sering menginjak atau bahkan menduduki kotorannya sendiri. Kalau tidak segera diketahui, ia akan berjalan dan menyebarkannya ke penjuru rumah.

Beberapa kali ibu menelepon agar aku  pulang ke rumah. Cuka berak tapi faecesnya tidak mau keluar dan aku harus menariknya dari pantat. Cuka menginjak faecesnya dan aku perlu membantu mengepel rumah. Cuka jatuh di atas faecesnya, dan aku harus memandikannya. Untuk hal-hal yang lebih “sepele”, ibu menanggungnya sendirian saat aku tidak di rumah. Dan aku jarang di rumah.

Beberapa minggu yang lalu ibu mengeluh tidak kuat lagi. Aku tahu kondisi ibu memang berat. Ia sudah tua. Tidak ada pembantu. Keluhan ibu benar-benar menjadi pukulan.

Aku cuma bisa berjanji akan lebih sering berada di rumah, sedia dipanggil kalau diperlukan. Tapi itu tidak banyak membantu. Pekerjaan menuntutku pergi-pergi juga.

Jadi kembali, kami dihadapkan pada pertanyaan yang selama ini enggan kami jawab sungguh-sungguh, karena rasa takut dan rasa bersalah,

“Apakah Cuka masih menikmati hidupnya?”

Apakah seekor anjing masih memiliki kualitas hidup ketika ia tidak lagi dapat tidur dengan rileks karena sendi yang kaku, ketika ia tidak lagi tahu di mana makanannya berada, ketika berjalan lurus saja ia tidak bisa, ketika untuk berdiri kadang harus melolong minta tolong.

Jadi aku menghubungi dokter. Membuat janji dengan maut.

Itu hari yang biasa. Aku memeluk Cuka. Menikmati aromanya. Menunggu dokter tiba sambil berkegiatan. Cuka berbaring, lalu bangun. Berjalan berputar-putar sebentar, lalu terduduk lelah. Bangun lagi. Begitu berulang.

Tidak ada yang spesial. Apa yang bisa aku lakukan supaya hari itu spesial?

Ketika berbaring ia tampak susah. Ketika berdiri ia tampak payah. Dan semua makanan ia perlakukan sama?

Demi Tuhan, apa yang bisa aku lakukan agar hari itu bisa terasa spesial untuknya?

Cuka ditidurkan dengan obat bius berlebih. Ia meninggal dengan tanganku ditubuhnya, telapak yang berusaha menyimpan memori tentang lembut bulu yang begitu menenangkan.

Aku di sana saat nafas terakhir menggoyangkan dadanya. Melepasnya pergi dengan kesadaran akan perpisahan yang sudah dibangun bertahun-tahun, sembari memegang erat kenangan akan hidup bersama. Menyimpan semua kasih sayang, keceriaan, dan pelajaran hidup yang ia hadirkan selama setengah umurku.

Cuka tidur dalam tenang, dengan posisi begitu santai yang tidak pernah aku lihat begitu lama. Aku terjaga dalam kesepian, dengan perasaan kehilangan yang tidak pernah aku alami sebelumnya.

pp

Yogyakarta, 20 September – 1 Oktober 2015

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Saat Kamu Tidur Dengan Tenang dan Aku Terjaga Kesepian (Sebuah Obituari)

  1. …selamat jalan ke Jembatan Pelangi, Cuka…

  2. Sedih baca postingan ini :,(

  3. GaL says:

    I did not even write this for you
    I don’t even have the words
    but white fire crawls through my heart
    bringing with it strange remorse

    you’ll never know how every line before you
    was me
    just trying to scratch the words
    to reach you, to write you
    into existence

    I think of you like a waking dream of your skull, spine melted into the sand dune of my palms
    “I guess I just want someone to love me hardest when I least deserve it.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s