Saya Si Orang “Baik”


tampak baik“Kalau nggambar pohon jangan seperti itu, begini saja, soalnya…bla bla bla..” ujar senior kepada saya tanpa diminta.

Padahal gambar pohon itu berusaha mengikuti gambar supervisor saya.

“Kalau (menyebut nama supervisor saya yang masih hijau) itu biarin saja. Salah sendiri merasa bagus. Tanya sama aku ya aku jawab bagus, bagus….Orang seperti itu jlungupke sekalian!”

Jlungupke itu mendorong ke depan orang yang sudah condong ke depan sampai jatuh.

Di mata supervisor itu mungkin si senior tampak baik padanya. Positif, penuh dukungan. Tapi saya dan Anda sepertinya bisa sepakat. Itu bukan perwujudan kebaikan si senior pada si supervisor.

Saya ini termasuk yang sering dianggap baik. Kadang dengan embel-embel “terlalu”. Terlalu baik.

Saya bisa rela saja saat ada teman menghindari tanggung jawab dari kesalahan yang ia buat. Saya malah takut kalau saya protes, hubungan pertemanan saya dengan teman-teman yang lain akan terganggu.

Saya bisa oke-oke saja ketika ada rekan yang mengakali honor saya. Main potong jalur ke klien tanpa etika.  Saya malah takjub dengan keberanian, keserakahan, dan kesembronoannya.

Teman-teman yang tahu soal itu biasanya menganggap saya baik sekaligus lemah.

Namun saya tidak merasa saya lemah. Apalagi baik. Oh, aduh! Sebaliknya, saya merasa jahat.

Dalam hati saya putus segala urusan dengan teman itu. Kerelaan saya adalah bentuk tidak mau lagi berurusan. Tidak ada pembuangan energi dengan protes ingin begini atau harusnya begitu. Saya mengadilinya sepihak bahwa ia telah beritikad buruk. Saya tidak peduli.

Bukankah ketidakpedulian, pengabaian, adalah sesuatu yang lebih merusak daripada kemarahan? Manakah yang lebih menyakitkan bagi seseorang, dianggap tak ada atau sekadar dicaci maki?

Dalam diam saya hubungi langsung klien saya dan menjelaskan keadaannya. Saya dapatkan hak saya secara penuh yang sebelumnya disunat rekan tadi. Si rekan tidak tahu kalau saya dan klien tahu ia telah berlaku culas. Si rekan tidak tahu kalau reputasi buruknya menyebar perlahan.

Tidak ada pembuangan energi untuk melakukan konfrontasi dengan rekan, walau jelas saya akan menang. Saya cukup melihat kebusukan menggerogoti dirinya sendiri perlahan.

Nah, coba Anda katakan di mana kebaikan saya?

Bisa saja saya melakukan ini karena saya hidup dalam budaya Jawa. Menunduk-nunduk di depan, menusuk dari belakang. Menggunakan besi runcing berkeluk mengandung racun.

Bisa juga karena pola pendidikan. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang menanggapi konflik dengan kemarahan. Ketika saya dewasa dan menolak marah, saya tercekat pada momen menghadapi masalah. Saya tidak tahu harus apa. Jadi diam dan membalas kemudian. Dalam kesenyapan. Tanpa niat baik untuk memberi kesempatan orang lain menjadi lebih baik.

Buktinya saya hanya terbengong saat orang lain sigap menyerobot antrean di depan.

Aneh rasanya dibilang baik, padahal saya cuma bingung bagaimana mengatasi konflik.

Yogyakarta, 22-23 Desember 2015
siang, dan dini hari saat tak bisa tidur, mendengarkan mika menyanyi “no place in heaven” melalui media player

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Saya Si Orang “Baik”

  1. siapa saja yang lewat says:

    hahaha, cara yang (kurang lebih) sama seperti yang aku lakukan. kenapa aku harus bersusah payah peduli pada orang yang tidak respek, meremehkan, dan ingin menjatuhkanku? aku tidak cukup baik untuk melawannya terang-terangan, dan bukankah akan terasa lebih nikmat jika dihancurkan pelan-pelan? melihatnya terkapar tanpa tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi..

  2. Diana says:

    “Saya dibesarkan dalam lingkungan yang menanggapi konflik dengan kemarahan. Ketika saya dewasa dan menolak marah, saya tercekat pada momen menghadapi masalah. Saya tidak tahu harus apa. Jadi diam dan membalas kemudian.”

    “…padahal saya cuma bingung bagaimana mengatasi konflik.”

    Saya baru sadar, poin di atas sama persis kaya yang saya alami. sering juga orang bilang saya terlalu kalem, sekaligus terkesan lemah. Tapi dalam diri sendiri gak ngerasa seperti itu (lemah), saya malah heran sama orang yang gampang kesulut emosi nya karena hal kecil yg bisa dibicarakan baik-baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s