Tidak Selamanya Agama Bisa Menyelamatkan


tidak selamanya agamaSoal agama di SMA saya dulu sensitif sekali. Maklum, walau sekolah negeri, agama berpengaruh erat dengan aturan-aturan di sekolah. Termasuk urusan-urusan politik kesiswaan.

Tapi di sini saya tidak sedang ingin bicara itu.

Saya ingin cerita bagaimana kesensitifitasan itu dapat dimanfaatkan.

Ada aturan di sekolah, siswa dilarang membawa buku yang tidak berhubungan dengan pelajaran kecuali buku perpustakaan. Tapi tentu saja aturan itu saya langgar. Bagaimana lagi saya bisa menghabiskan waktu membosankan di kelas tanpa itu.

Untuk menegakkan aturan, sekolah punya polisi-polisian yang siswa juga. Namanya PK. Perwakilan kelas. Kerjanya melakukan razia dadakan. Dalam satu razia, saya tertangkap basah membawa buku bacaan. Siswa yang sedang bertindak sebagai polisi itu mengeluarkan buku dari tas saya. Dipegang. Saya diam. Ia termenung menatap sampul.

“Yesus Sang Anak Manusia” karya Kahlil Gibran.

Si polisi memasukkan kembali buku itu ke tas saya tanpa berkata apapun. Blaik! Hahaha! Pasti ia bingung menentukan itu buku “pelajaran” agama atau bukan. Bisa jadi masalah merepotkan kalau ia salah. Padahal jelas itu bukan!

Kahlil Gibran baru trend-trendnya. Lagian kalau mau dilihat dari sudut pandang agama, buku itu harusnya sesat. Lha wong Gibran ngarang-ngarang sendiri kisah-kisah orang-orang di sekitar Yesus.

Saat itu agama menyelamatkan saya! Yay!

Di waktu lain, saat jam kosong tiba, kisah pemanfaatan agama oleh siswa tak bertanggung jawab ini terjadi lagi.

Karena cuma dikasih tugas mengerjakan soal pilihan ganda, kami pilih nongkrong di luar kelas. Di tempat “aman” favorit untuk sekedar mengusir jenuh. Meja tak terpakai di dekat toilet.

Jadi kami berlima buang air bergantian di toilet bawah tandon air. Ada sih toilet lainnya, cuma baunya itu menggetarkan jiwa. Sambil menunggu, kami bersantai duduk-duduk di meja tak terpakai. Walau memang sering bolos, tapi sungguh waktu itu tidak ada niat bolos. Hanya keluar sebentar saja dari kelas yang tidak ada gurunya.

Ehh, tanpa diduga guru wali kelas kami, Pak Yanto, lewat dan melihat kami dari kejauhan. Dan yang lebih tak diduga, dan masih sulit dipercaya bahkan sampai saat ini, Pak Yanto mengacungkan jari ke kami dan berteriak,

“Eh! Anak nakal!!”

Kami kaget! Tidak mengira dihardik dengan seperti itu. Responnya pun respon panik.

Kami lari tunggang langgang. Pak Yanto semakin sulit di percaya. Ia turut lari mengejar.

Dua dari kami sembunyi ke kamar mandi. Saya, dan dua teman lain lari mengikuti jalur.

Pilihan kami salah, di depan ujung sekolah. Terbentang lapangan basket. Kentara sekali nanti kami nanti berlari tak ada tempat sembunyi (walau kalau dipikir, buat apa juga. Pak Yanto sudah hafal kami).

Pilihan jatuh di muka kami. Ruang agama Kristen kosong melompong. Kami yang Katolik masuk saja. Mau sembunyi di kolong, nanti malu kalau ketahuan. Jadi kami memilih duduk di kursi yang paling sulit dilihat dari luar.

Duduk diam. Mensedekapkan kedua telapak tangan di muka. Menunduk. Sikap berdoa.

Gila benar Pak Yanto ini! Dia masuk ke ruang agama. Di muka kelas ia berdiri tegap. Menunjuk ke luar sambil sekali lagi meghardik,

“Anak-anak nakal! Hayo kembali ke kelas!!!”

Kami berdiri dengan lemah. Dengan kepala menunduk seperti prajurit kalah perang, kami berbaris lunglai melewati Pak Yanto di muka menuju pintu keluar.

Sesampai di luar, kami tertawa terbahak dan setengah berlari kembali ke kelas. Masih tidak percaya kejadian barusan. Bahkan sampai sekarang.

Mungkin waktu itu kami tertawa karena sadar bahwa berlindung di balik agama tidak bisa menyelamatkan kami. Mungkin karena tidak di bawah agama yang kami anut. Mungkin…

***

Bertahun kemudian, saya disengat kenyataan yang dibawa berita. Agama memang tidak selalu bisa menyelamatkan. Kadang malah mencelakakan. Terutama ketika berani dan teguh di bawah agama yang kita anut. Orang-orang dibunuh, dianiaya, dan diusir karenanya.

Yogyakarta, 31 Desember 2015
sedang males ngapa-ngapain tapi merasa terdorong buat rajin nge-blog kembali

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Tidak Selamanya Agama Bisa Menyelamatkan

  1. Amet says:

    Suka tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s