Yuk Berinternet: Sebuah Catatan Pembuatan Komik


cover internet LOW2

Yuk Berinternet adalah sebuah komik tentang budaya berinternet dengan sehat. Materinya disusun oleh Valens Riyadi, cerita sampai storyboard oleh saya, dan ilustrasi akhir oleh Osa.

Beberapa tahun lalu ketika komik pertama saya terbit, saya mendapat banyak teman baru di media sosial. Facebook tepatnya. Di antaranya anak-anak kecil. Dengan umur di bawah persyaratan untuk memiliki akun facebook.

Suatu hari, salah seorang anak menghubungi saya lewat pesan pribadi. Saya lupa tepatnya. SD, kelas dua-an mungkin. Memang kami sudah ngobrol beberapa kali. Tapi hari itu, ia memberi saya nomor ponselnya dan meminta nomor ponsel saya.

Saya lalu menasehati untuk berhati-hati agar tidak sembarang memberi nomor ponsel ke orang tak dikenal.

“Om kan yang bikin komik Koel itu.”

“Iya. Tapi tidak berarti kita benar-benar kenal kan? Ortumu tahu kamu kamu main fb?”

“Tahu.”

“Ada di sampingmu sekarang?”

“Sedang menyirami.”

Saat itu saya menyadari bahwa pendidikan internet sehat tidak sekedar jargon “Jangan memberi identitas diri pada orang yang tidak kita kenal”.

Anak tadi sudah tahu aturannya. Tapi kenyataan tidak sesederhana itu. Mulai saat itu saya jadi lebih peka pada isu-isu kehidupan berinternet.

Sampai pada suatu hari, Valens, yang baru saja membaca komik Koel, memesan beberapa gambar untuk presentasi tentang internet sehat. Setelah itu, muncul ide untuk membuat point-point pendidikan internet sehat ke dalam bentuk komik.

Singkat kata, komik ini kami realisasikan di bawah penerbitan Cendana Art Media. Saya belajar banyak dalam prosesnya. Pemahaman dan pengalaman baru.

Misal, kapan lagi saya bisa mencari-cari konten porno di internet dalam rangka kerja!?

Perbuatan ini saya lakukan dalam rangka mencobai filter internet. Hasilnya… filter tidak akan benar-benar dapat menyaring konten negatif dari internet kita, termasuk konten porno. Bisa dibilang bahwa siapa pun yang mengakses internet, ia rawan terpapar konten negatif. Dari media sosial ataupun mesin pencarian.

Filter yang ada pun tampaknya hanya fokus pada kata-kata asing. Jauh lebih sulit mencari konten porno menggunakan kata kunci kata-kata asing dari pada menggunakan kata-kata lokal. Terutama kata-kata yang dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari. Konten porno lokal ini tersebar tidak berupa situs khusus namun umumnya menggunakan fasilitas blog gratis.

Kebanyakan konten porno lokal yang saya temui adalah buatan “rumahan”. Dibuat dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pemain. Atau dibuat oleh pemain sendiri, yang mestinya untuk koleksi pribadi. Atau ada juga pengambilan gambar yang dilakukan seperti bermain-main oleh teman (para) pemain. Sambil haha hihi. Konten-konten macam ini mencitrakan bahwa kegiatan yang dilakukan adahal hal yang biasa saja dan dapat dilakukan dalam keseharian kita. Berbeda dengan umumnya konten luar yang terlihat dilakukan oleh profesional.

Wah, panjang juga pembahasan pornografi tadi. Ya wajar sih, mengingat inilah yang paling banyak disinggung ketika kita bicara tentang bahaya internet.

Namun seperti yang dikatakan Valens saat mengonsep komik ini, pornografi hanyalah puncak dari gunung es. Di bawah permukaan, kita memiliki masalah besar lain. Privasi.

Konten porno lokal yang tersebar di internet jelas-jelas bentuk ketidaksadaran masyarakat akan privasi dirinya maupun privasi orang lain. Bahwa konten digital begitu mudah tersebar. Bahkan bisa dibilang tidak akan dapat dihentikan lagi ketika sudah diunggah ke internet.

Selain mewujud dalam masalah pornografi, masalah privasi ini juga muncul dalam penyebaran informasi pribadi. Masyarakat begitu mudah memberikan informasi mengenai diri sendiri maupun informasi mengenai orang lain.

Dalam sebuah kasus (di Indonesia!), ada foto-foto telanjang anak kecil yang disebarkan melalui internet. Pelaku mendapatkannya dari anak-anak itu sendiri. Ia menyaru di media sosial dengan menjadi seorang dokter yang peduli dengan kesehatan anak-anak itu. Korbannya adalah anak-anak dalam satu sekolah.

Kita cukup bersyukur karena pelaku akhirnya bisa tertangkap. Tapi kita harus ingat trauma yang muncul pada para korban dan orang tuanya. Dan percayalah, kisahnya jauh lebih mengerikan daripada dua paragraf yang saya tuliskan ini.

Atau kita ambil contoh lain yang lebih ringan. Seorang (mantan) siswa mengisi profil di situs web alumnus SMA-nya. Ia menulis “jalan-jalan ke lokalisasi” sebagai hobinya. Lucu-lucu saja waktu itu. Namun ketika tiba waktu ia mencari kerja, ia ingin informasi itu dihapus karena bisa merusak reputasi. Sayangnya, informasi itu sudah memiliki mirror (http://searchstorage.techtarget.com/definition/mirror)

Sering kali data-data yang kita cantumkan di internet adalah sesuatu yang tak dapat ditarik kembali (irreversible). Sesuatu yang kita bagikan sekarang bisa jadi kita sesali kemudian.

Ketika kita menarik batasan yang lebih luas dari soal privasi, kita akan menemui masalah dalam etika.

Privasi hanya satu bagian di dalamnya. Di luar itu kita temui soal kebebasan berpendapat. Yang tampak benar-benar bebas ternyata menyimpan ancaman hukuman perdata.

Bahkan dengan hukum yang ada di Indonesia sekarang, seorang istri yang curhat tentang pekerjaan suaminya di media sosial bisa berakhir di ruang sidang. Atau seorang yang bergosip tentang petinggi di grup cakap-cakap tertutup. Juga seorang istri yang bercakap dengan lelaki yang bukan suaminya melalui fitur cakap-cakap pribadi di media sosial.

Kita juga mengenal fenomena perundungan daring (cyberbullying). Perundungan yang bisa berlanjut menjadi ancaman fisik ketika identitas korban diungkap. Nama asli, alamat, bahkan sampai nomer induk mahasiswa.

Wah, tidak akan selesai-selesai kalau bicara soal ini. Bisa jadi satu buku sendiri. Ada begitu banyak masalah yang perlu dibahas, dari yang berat seperti perbuatan kriminal sampai masalah-masalah kecil seperti membagikan foto/informasi pribadi orang lain tanpa izin.

Mempelajari hal-hal ini saat mengerjakan komik “Yuk Berinternet!” membuat saya semakin….

Takut.

Jelas bahwa masyarakat belum siap dengan budaya baru yang dibawa oleh teknologi internet. Siapa yang seharusnya mengajarkan ini pada pengguna (awal)? Guru dan orang tua? Sering kali pengetahuan mereka tidak cukup. Bahkan bisa jadi tidak ada modal pengetahuan untuk mengajar tentang etika berinternet. Jangankan pengetahuan, kesadaran bahwa internet menyimpan potensi masalah saja tidak.

Ini bisa diwakili obrolan saya dengan seorang guru TIK sebuah SMP di Yogyakarta (dilakukan saat riset colongan).

“Kalau siswa-siswanya sudah main internet?”

“Ya ada. Di sekolah ada beberapa komputer.”

“Diajarinya apa saja?”

“Ya paling ms word, paint.”

“Ohh…kalau internet?”

“Nggak sih. Kalau itu anak-anak sendiri.”

“Ada masalah nggak?”

Ia langsung menjawab dengan semangat,

“Ya ada. Komputernya kan cuma sedikit, jadi anak-anak rebutan. Lalu monitornya kan monitor lama, jadi kekecilan. Lalu mousenya….~.”

Okeee…mungkin pertanyaan saya yang salah.

Kita tahu anak-anak ini belajar ms word dan paint. Tapi siapa yang mengajarkan anak-anak ini etika berinternet. Sementara mereka bebas ke warnet atau mengakses internet di ponsel mereka secara pribadi.

Omong kosong dengan internet positif. Buktinya  (kalau mau) dengan mudah saya masih bisa mengakses pornografi, mengambil dan menyebarkan materi berbahaya, atau memaki dan menyebarkan kebencian lewat internet.

Masyarakat tidak bisa dijauhkan dari “penyakit” ini. Obat bukan pemecahan masalah. Kita butuh vaksin. Dalam kasus ini vaksin itu berupa pendidikan.

Saya percaya kita dalam kondisi darurat. Korban terus berjatuhan dan kita tidak memiliki pihak yang secara khusus dibebani tanggung jawab untuk menangani masalah ini.

Dan dalam kondisi darurat, saya berkeyakinan bahwa semua orang, siapapun dia, yang memiliki kesadaran maupun pengetahuan, memiliki kewajiban untuk turun tangan turut mendidik masyarakat.

Korban terus berjatuhan. Di sekeliling kita. Mereka nyata.

Yogyakarta, Januari – Februari 2016
beli buku saya..! :p

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Yuk Berinternet: Sebuah Catatan Pembuatan Komik

  1. benny says:

    “Om kan yang bikin komik Koel itu.”

    “Iya. Tapi tidak berarti kita benar-benar kenal kan? Ortumu tahu kamu kamu main fb?”

    “Tahu.”

    “Ada di sampingmu sekarang?”

    “Sedang menyirami.”

    Jadi mikir… menyirami apa…? :)) untung saya belum punya anak.

  2. Tulisannya menarik. Menurut saya masih beruntung sebagian anak umur SMP bahkan SMA masih ada yang belum kenal tekonologi khususnya internet. Anak2 cenderung lebih cepat menyerap konten negatif ketimbang positif apalagi dibawah pergaulan anak2 jaman sekarang. Semoga para orang tua baru (baru kawin dan mau punya anak) lebih mendekatkan diri ke anak2 dan mengawasinya. Anak2 umuran SMP dan SMA masih belum teralalu dewasa menanggapi bebasnya berinternet apalagi yang SD kayak yang dibilang tadi di atas. Haduhhh …

    Keep blogging, God bless (y) …
    #blogging #wordpress

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s