Resensi Buku “Rahasia Batik Berdarah”: Mengikuti, Bukan Menanggapi Zaman


rahasia_batik_berdarahAtas sebab musabab yang tak perlu diketahui, saya terpaksa meresensi sebuah novel baru berjudul “Rahasia Batik Berdarah” karangan Leikha Ha.

Berhubung saya lagi ingin giat menulis blog, maka saya jadikan resensi ini sebagai materi blog sekalian. Semoga tidak mengecewakan pembaca blog ini.

“Rahasia Batik Berdarah” bercerita tentang Fiska, wartawati gosip, eh…infotainment di sebuah tabloid. Fiska ditugasi meliput kasus pembunuhan sebagai hukuman karena mangkir kerja. Bolos karena  patah hati. Pembunuhan ini dianggap menarik karena konon arwah korban bergentayangan. Jadilah Fiska pergi dari Jakarta ke Yogyakarta.

Si Bos tidak cuma menuntut Fiska untuk meliput, tapi juga untuk menemukan pembunuh. Wow! Entah si Bos ini serius atau tidak, tapi memang ia digambarkan tidak pedulian.

Fiska tidak cari pondokan sendiri, tapi numpang di rumah teman Bos. Lalu cerita berjalan layaknya FTV. Fiska pergi, boncengan dengan pemuda sekitar. Berkunjung sana-sini dan seterusnya dan lain-lain.

Membaca buku ini seolah melihat film Indonesia di layar kaca. Hantu yang belum-belum sudah nongol tanpa motivasi kuat. Tokoh-tokoh yang klise. Alur cerita yang lurus-lurus saja. Juga misteri yang dipecahkan bukan melalui kecerdasan tokoh utama dalam menyatukan keping-keping petunjuk yang berserakan. Jawaban disodorkan begitu saja ke depan hidungnya.

Buku ini mewakili impian jaman. Tokoh anak muda kekinian, yang dari bawah merangkak berjuang tanpa melalui jalur mainstream. Harus melakukan hal tidak masuk akal. Datang ke tempat asing. Bertingkah tidak tahu sopan santun tapi tetap dimaklumi. Terlibat petualangan yang dia sebenarnya tidak tahu apa yang ia lakukan. Lalu dengan ajaib, mungkin karena semesta mendukung ala Rondha Bryne, akhirnya ia mampu menyelesaikan tugasnya. Semua senang kecuali penjahat. Kemudian ia siap untuk petualangan berikutnya. (Iya, buku ini bau-bau disiapin untuk berseri)

Membacanya membuat saya ingat baca Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Anak-anak yang serba bertemu dengan kebetulan. Cuma bedanya itu buku-buku Enid Blyton adalah buku anak-anak, sedang “Rahasia Batik Berdarah” berstempel “young adult.”

Karya yang baik memang tidak akan lepas dari jamannya. Tapi ada beda antara mengikuti dan menanggapi. Buku ini tidak memberi jawaban apa-apa pada gejolak masyarakat. Pun tidak menyajikan gagasan atau refleksi pada masyarakat.

Tidak berarti buku ini buku yang buruk. Buku ini gampang dibaca. Runtut. Alurnya mudah diikuti. Cukup memberi hiburan. Saya sama sekali tidak menyesal telah meluangkan waktu untuk membacanya. Hanya saja terasa tidak berkarakter. Baik dari sisi cerita ataupun gaya bahasa.

Saya yakin Leikha ini penulis yang baik. Tapi cuma ingin gampangnya saja.

yogyakarta,
akhir februari – awal maret 2016

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s