Motivatologi: Kibal-Kibul Motivasi


cover_motiv Berikut adalah naskah awal artikel pengantar tiap bab pada komik saya, Kibal-Kibul Motivasi. Isinya adalah pertanyaan-pertanyaan atas keadaan yang membawa saya untuk mengerjakan karya ini. Komik ini mulai dikerjakan dari Januari sampai Oktober 2014. Karena satu dan lain hal, baru diterbitkan secara mandiri pada Mei 2016.

Bagaimana cara mengajarkan anjing sebuah trik?

Jangan lupa beri ia imbalan tiap kali berhasil melakukan hal yang diperintahkan. Imbalannya tentu berupa makanan. Boleh ditambah tepukan di kepala. Apalagi yang diinginkan anjing selain itu. Jika kurang ajar, pukul. Kalau tega. Saya sih tidak tega.

Mendidik anak tampaknya tidak jauh beda.

“Kalau mau disuntik nanti dikasih permen,” atau;

“Kalau tidak bikin PR nanti dihukum Pak Guru.”

Namun semakin dewasa, keinginan dan ketakutan kita berubah.

Buat apa permen, sudah bisa beli sendiri. Cuma dihukum lari keliling lapangan karena tidak mengerjakan tugas, kecil. Mending berlari daripada bekerja.

Walau berubah, namun keinginan dan ketakutan itu tetap selalu ada. Ingin punya ponsel pintar, sepeda motor, mobil, rumah sendiri. Ingin naik gaji. Naik pangkat dan jabatan.

Penuh semangat, kita berjuang mendapatkannya. Semakin banyak yang didapat, semakin takut kita kehilangan. Semakin takut, semakin kita berusaha merengkuh banyak-banyak.

Ketika yang banyak-banyak itu sudah begitu banyak, kita lupa bahwa kita bisa hidup dari sedikit. Kita lupa awal mula kenapa kita ingin. Kita lupa apakah keinginan mengendalikan kita, atau kita yang mengendalikan keinginan.

Dan benarkah kalau itu yang kita inginkan?

***

Pada perang Iran-Irak (1980-1988), pemerintah Iran membagikan kunci-kunci plastik kepada anak-anak. Katanya, kunci-kunci itu nanti digunakan untuk membuka gerbang surga saat mereka mati dalam melakukan tugas. Tugas mereka adalah membersihkan ladang ranjau dengan cara berjalan di atasnya.

Dalam sejarah, begitu banyak alasan digunakan untuk mendorong rakyat pergi berperang. Yang belum lama dan begitu fenomenal, tentu saja perang terhadap Irak yang dilancarkan Presiden Amerika George Bush Jr.

Presiden Bush menuding Irak menyimpan senjata kimia dan biologi. Presiden Irak, Saddam Hussein membantah. Amerika tetap menyerang, dan kemudian terbukti tidak ada senjata kimia maupun biologi yang disebutkan.

Tidak cukup dengan alasan, perang juga membutuhkan keberanian. Berani untuk mati, berani untuk membuat mati.

Sayangnya, sifat dasar manusia adalah welas asih. Sehingga perlu sesuatu yang luar biasa untuk membuatnya berani mati, tega membunuh, dan menyakiti sesama. Misalnya kunci plastik tadi.

Atau kebencian yang ditanam dan dirawat selama bertahun-tahun. Disemai ketika kita tidur. Disiram dengan prasangka. Dipupuk oleh kebodohan. Dipanen dengan parang dan pelor. Tuaiannya harta dan kekuasaan. Darah dan nyawa dilemparkan saja ke dalam pelimbahan.

Sejarah manusia, termasuk Indonesia, penuh dengan tragedi macam ini. Pembantaian pasca G30S ’65, kerusuhan ’98, , ataupun tragedi Cikeusik.

Adakah kita akhirnya bisa belajar untuk sempat bertanya, saat kebencian membuncah di dada dan tangan siap berlumur dengan darah;

Sebenarnya untuk apa dan siapa kita mengangkat senjata? Kenapa kita diminta membenci? Apa yang akan terjadi kalau kita memilih berdamai saja?
05

***

Dari bangun sampai tidur lagi, hidup kita dijejali oleh iklan. Lewat ponsel, radio, televisi, surat kabar, baliho-baliho sepanjang jalan, sampai tetangga yang jadi agen produk ini itu.

Dibujuk terus menerus sedemikian rupa, tidak heran kita jadi konsumen yang baik. Tertib, taat, mengikuti apa yang disodorkan.

Kita membeli baju yang tak nyaman dan obat yang tak diperlukan. Kita makan makanan yang membuat sakit dan membayar minuman hanya agar bisa duduk di tempat yang membuat kita tampak hebat. Kita membeli alat agar bisa selalu terhubung dengan orang lain, tapi nyatanya kita makin kesepian.

Kita menentukan identitas diri berdasar apa yang kita beli. Semakin banyak dan mahal, maka kelas sosial kita semakin tinggi. Lalu kita menyangka bahwa kita semakin bahagia.

Tapi dari mana semua uang untuk itu?

Kita bekerja keras dan semakin keras. Konon teknologi diciptakan untuk membantu manusia, menghemat waktu dan tenaga. Namun nyatanya beriringan dengan kemajuan teknologi, jam kerja manusia semakin bertambah.

Manusia pekerja, tidak peduli warna kerah atau tipe seragamnya, sama-sama merasa kurang dan kurang. Berusaha untuk lebih dan lebih.

Siapa yang paling senang saat ada pekerja yang bekerja dengan keras?

***

Sangat menyenangkan ada yang memberikan semangat saat kita jatuh, memberikan nasehat saat kita tercekat putus asa dan tak tahu harus apa.

Namun memberikan nasehat adalah sebuah tindakan yang perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Apabila nasehat diikuti dan malah menyebabkan kegagalan, pemberi nasehat jadi turut bertanggung jawab atas keterpurukan itu.

Apabila nasehat tersebut diikuti dan berhasil, bisa jadi akan membuat orang yang diberi nasehat kehilangan kepercayaan diri. Ia akan berusaha meminta nasehat lagi jika mendapat masalah baru. Tentunya ketika kita benar ingin membantu orang lain, kita ingin orang tersebut bisa berdiri untuk seterusnya bukan.

Tapi beda dengan bisnis. Kita ingin konsumen kita balik lagi. Jadi tak ada salahnya dengan memberi nasehat. Kalau luput, salahkan saja konsumen. Kalau berhasil, gunakan untuk promosi. Bisnis motivasi jadi tak jauh beda dengan pengobatan alternatif. Bedanya adalah, sedari awal tidak ada yang salah dengan konsumen.

Seolah semua latar belakang dan masalah manusia adalah sama, bisnis motivasi berkedok agama, pengembangan diri, atau peluang usaha, memberikan solusi yang sama pada semua orang. Mulai dari hal-hal kecil semisal pacaran sampai ke investasi keuangan masa depan.

Sebagai konsumen yang taat, kita pasrah saja. Enak kok, diberitahu cara untuk sukses dan bahagia. Nyaman tanpa susah-susah berpikir. Ikuti saja kata-kata mereka.

Lalu pelan-pelan, seperti otot yang melemah karena tak pernah dilatih, kemampuan kita mencari solusi secara mandiri dan memotivasi diri sendiri menjadi hilang. Kita biarkan orang lain mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan kita. Karena kita sebenarnya tidak tahu sukses itu apa. Karena kita sudah lupa bagaimana rasanya bahagia.

 

Yogyakarta, Maret 2015

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Motivatologi: Kibal-Kibul Motivasi

  1. sandrosirait says:

    Thx for the reflection of motivation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s