Berebut Gunungan, Berebut Entah Apa


habis dijarah

Jarang-jarang bisa melihat simbok-simbok tua keriput berjarik lecek berkumpul bersama gadis-gadis muda berkulit putih memakai hotpants. Garebeg Sawal di Alun-Alun Utara Yogyakarta pada hari kedua Idhulfitri kemarin menyatukan mereka. Orang-orang berjejal menonton barisan prajurit. Orang-orang berjejal merayah gunungan yang dibagikan.

Garebeg merupakan tradisi yang sudah ada dari zaman sebelum manusia bule menyerang. Arti katanya dekat-dekat dengan gembrebeg alias keramaian. Atau anggap saja begitu. Saat acara garebeg, dibagikan juga gunungan. Gunungan itu makanan yang disusun tinggi. Disusun di dalam keraton, diarak pada hari yang ditentukan, lalu diberikan untuk rakyat. Dulu sih katanya dibagikan. Kalau sekarang dirayah. Diperebutkan.

Gunungan itu memang bermakna sedekah raja untuk rakyatnya. Jumlah dan isinya bisa dibilang mencerminkan kekayaan sang raja. Jadi tidak heran kalau konon pada masa Sultan Agung, gunungan berisi daging hasil menyembelih seribu sapi. Gunungan di Keraton Yogyakarta yang saya kunjungi kemarin sudah beda jauh. Isinya kacang panjang, lombok, kue dari ketan dan tepung beras. Ada juga beberapa bahan lain yang jumlahnya tak banyak, seperti telur asin, buah, atau apa lagi tak tahu.

Zaman sekarang, barang-barang seperti ini tampaknya tidak lagi berharga. Lagian, dalam rayahan itu tidak bakal dapat banyak-banyak. Paling hasilnya tidak akan lebih mahal dari sekali dua kali parkir.

Kalau mau mengikuti perkembangan zaman, gunungan itu harusnya berisi sepeda seperti sedekah Jokowi. Kalau terlalu besar dan mahal bisa diganti tiket bus transjogja. Atau yang lebih kekinian, untuk menarik kaum muda, bisa berisi tablet dan smartphone. Atau cukuplah SIM card berisi paket internet. Kalau kondisi finansial keraton tidak mencukupi, pasti tidak sulit menghimpun dari CSR perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Yogyakarta.

Tapi nggak usahlah berpikir aneh-aneh seperti itu. Nanti apa bedanya keraton dengan perusahaan-perusahaan yang lagi promosi. Hilang nanti itu tradisi. Lagipula, simbok-simbok yang ada mungkin tidak akan tertarik dengan barang-barang macam itu. Tidak berguna bagi mereka.

“(Yang seperti) Ini tahun kemarin sudah dapat, kalau yang ini khasiatnya buat apa ya?” tanya seorang simbok sambil menunjukkan perolehannya ke tukang foto yang berpakaian Abdi Dalem atau Abdi Dalem yang bertugas jadi tukang foto.

“Wah, saya nggak tahu,” jawab tukang foto yang berpakaian Abdi Dalem atau Abdi Dalem yang bertugas jadi tukang foto tadi.

Bagi yang belum pernah mendapat hasil rayahan gunungan, nggak perlu heran. Yang dimaksud kue dari ketan itu adalah, memang kue dari ketan, berwarna-warni cerah hasil pewarna makanan, tapi sudah keriiing dan keraaas. Demikian juga kue dari tepung berasnya. Tidak bisa dimakan.

Warga yang masih tradisional menganggap benda-benda itu mengandung berkah. Memiliki khasiat tertentu. Entah apa. Tapi ada juga warga bertampang modern, keluarga lengkap yang tampaknya sedang berlibur, ayah yang pakai celana pendek, ibu yang berkacamata hitam besar, anak-anak yang berbaju bersih rapi, juga turut membawa “makanan” dari gunungan. Entah mengapa, dan buat apa, sayang saya tak tanya.

Tak ketinggalan saya ikut-ikutan. Namun karena ketinggalan berebut, saya hanya ikut mengambil sisa-sisa ketan kering yang remuk di atas tanah. Untuk apa saya tak tahu. Nggak jelas. Lebih tepatnya biar lebih greget saja untuk bahan tulisan yang Anda baca ini.

remukan

Berhubung saya pernah dengar ada yang menanamnya di sawah agar hasil panen berlimpah, saya juga berencana menanam remah-remah ketan kering itu. Sedekah raja berwujud kompos. Moga-moga menghijaukan halaman mungil di belakang rumah.

Saya jadi penasaran, berapa banyak dari warga yang merayah gunungan ini yang aslinya seperti saya. Cuma ikut-ikut. Cuma suka berebut.

Berebut sedekah, berebut subsidi, berebut perhatian, berebut apa saja yang tidak saya butuhkan. Bahkan berebut hal yang tidak saya ketahui kegunaannya.

Di pusat perbelanjaan saya berebut merk. Di Garebeg saya berebut gunungan.

Yogyakarta, 28 Juni 2017

menikmati sisa liburan yang aslinya tetep kerja

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s