Hingga Usai Usia, Horor Sebuah Komitmen


12806118_10207467111269475_3183470261149387756_n

Menikah itu konsep yang mengerikan. Apalagi bagi pernikahan Katolik yang tidak mengenal cerai kecuali salah satu dari pasangan meninggal. Betapa menyiksanya kalau terjebak dengan orang yang salah, hingga usai usia.
Horor atas komitmen hidup bersama hingga usai usia ini tampak begitu menghantui saya. Apalagi mengingat saya sangat mudah terganggu akan keberadaan orang yang tidak saya sukai. Kalau sudah bener nggak cocok, orangnya duduk nggak ngapa-ngapain saja tetap membuat saya risih. Bahkan dengan orang-orang biasa, over dosis interaksi dapat membuat saya uring-uringan.
Benar saya pernah tinggal satu atap dengan teman, tapi di sana tidak ada tuntutan untuk berinteraksi. Saya bebas menyendiri kapan pun saya ingin. Keluar rumah, cuek di depan komputer, atau mengunci diri di kamar. Apakah pernikahan bahagia bisa diwujudkan melalui interaksi macam ini? Saya rasa tidak.
Memutuskan untuk menikah tidak mudah bagi saya yang menghabiskan waktu dengan sibuk mencari. Mencari hidup seperti apa yang saya inginkan. Apa dan bagaimana yang saya mau. Dalam hal ini, saya pengikut aliran bahwa butuh untuk menjadi mapan dahulu untuk menikah.
Mapan di sini bukan dalam pengertian umum. Bukan punya pekerjaan tetap, penghasilan bagus, rumah, atau mobil. Mapan dalam pengertian saya adalah memiliki cara hidup yang tetap. Dan saya habiskan bertahun-tahun masa awal kedewasaan dengan “tidak terima” atas kehidupan yang saya jalani. Saya mencari. Saya berjuang untuk mapan.
Begini, awalnya saya mencari apa sebenarnya pekerjaan yang saya sukai. Kemudian saya memperjuangkan profesi yang memungkinkan saya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Ketika sudah mendapatkannya, saya memperjuangkan kehidupan yang memungkinkan saya untuk punya peliharaan dan rak buku. Ketika saya mendapatkannya, saya memperjuangkan jam kerja yang fleksibel agar bisa melakukan hal-hal yang bersifat insidental. Ketika saya mendapatkannya, saya memperjuangkan agar pekerjaan saya cukup beragam agar tidak membosankan. Saya terus mencari dan berubah. Dan mungkin karena selera yang aneh, saya terus mempertaruhkan hal-hal yang dinilai sudah baik bagi orang lain.
Saya ini egois, hanya mau hidup dengan cara hidup yang saya mau. Karena itu menikah dalam keadaan tidak mapan saya anggap tidak adil bagi pasangan. Ketika hidup saya berubah, berarti hidupnya juga harus berubah. Ketika saya mempertaruhkan hidup saya, berarti saya juga mempertaruhkan hidupnya. Termasuk hidup anak-anak kami jika punya. Sedang saya tidak mau meninggalkan hidup yang saya impikan.
Beberapa tahun belakangan, saya semakin menemukan kehidupan macam apa yang saya inginkan. Gaya dan arah hidup saya semakin stabil. Walau terus ada perubahan, tapi bisa saya nyatakan kalau saya sudah mapan. Mapan dari cara pandang atas kehidupan, mapan dari cara mengarungi kehidupan.
Lalu alam sepertinya tahu dan mengatur. Seorang wanita hadir. Wanita yang memandang kehidupan dari sudut yang sama dan menikmati cara mengarungi kehidupan yang sama dengan saya.
Hal yang menakutkan tiba-tiba terasa begitu mudah. Begitu alamiah. Seperti air mengalir jatuh ke bawah, seperti benih merekah saat terkena tanah basah, seperti matahari bersinar di langit cerah.
Kami menikah tepat setahun lalu. Tentu satu tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk menilai sebuah pernikahan.
Tapi ini satu tahun yang indah.

Yogyakarta, 3 Desember 2017
Selesai ditulis dini hari tak lama setelah hari berganti tanggal. Istri tidur di kamar. Unyil, anjing kami, tidur dua tegel jauhnya dariku. Susan Wong menyanyi “When I Fall In Love” di Windows Media Player. Aku tersenyum sendiri.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Hingga Usai Usia, Horor Sebuah Komitmen

  1. Amet says:

    Love this! Gak ada kata yg bisa mendeskripsikan lagi

  2. Benny says:

    Happy anniversary ya mas, tepat hari ini juga, setahun yang lalu, adik saya menikah “sabaya pati sabaya mukti” katanya (entah apa artinya?), adik saya nambah satu, wong jogja. Tanggal 2 Desember kemarin anniversary pernikahan orang tua kami yang ke-35. Dan syukur, akhirnya saya juga akan mengakhiri masa lajang saya tanggal 23 Desember 2017 nanti. Selamet, selamet, selamet buat semuanya 🙂

  3. Tobias says:

    Congrats for your happy married life, ‘Kur. It seems you’ve found the one.

    Ah, seperti biasa, sedikit komentar:
    “Mapan dari cara pandang atas kehidupan, mapan dari cara mengarungi kehidupan.”
    Sesuatu, yang dalam hemat saya, nggak banyak disadari dan dicari orang2 atas definisi “mapan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s