Menciptakan Ruang Dialog di Komik Media Sosial


*ditulis dalam rangka menyusun pikiran untuk berbicara di Jamasan (Jagongan Malam Santai) Dagadu, 8 Desember 2017, dengan tajuk “Seniman Berkarya ‘Menggelitik’ Ruang Digital”

Saya diundang ke Jamasan Desember 2017 karena komik-komik saya di media sosial. Komik-komik tersebut dianggap sebagai kritik sosial-politik yang kadang disampaikan secara jenaka.

Saya mulai mengunggah komik daring pada pertengahan tahun 2008. Di blog, multiply. Tujuannya biar ada yang membaca. Pertengahan 2009, karya saya berpindah ke facebook sampai sekarang. Pernah nyoba twitter, tapi malas ngurus akunnya. Sekarang mencoba instagram, tapi masih baru-baru saja. Jadi mohon permaklumannya kalau pembahasan yang saya lakukan terbatas pada facebook.

Awalnya, saya membuat komik secara rutin sebagai sarana tetap menggambar. Melemaskan tangan dan melatih ketrampilan. Tapi saya ingin sesuatu yang lebih berarti, yang lebih bermakna. Jadi saya letakkan tujuan. Visi misi komik saya adalah, haha, malu juga nyebut:

“Membuat dunia yang lebih baik.” Atau,

“Membuat dunia yang lebih nyaman ditinggali.”

Namanya juga visi, diletakkan jauh ke depan. Tidak peduli mungkin tercapai atau tidak, yang penting sundul langit.

Koel_034_resize.jpg

Jadi saya sok-sokan mencoba menggali akar masalah dunia. Mengambil intisarinya sebagai dasar bagi komik yang akan saya kerjakan. Saya mengambil asumsi bahwa kehidupan bisa lebih baik apabila manusia berbahagia. Apa yang membuat manusia bahagia? Saya asumsikan kesadaran diri, awareness. Ada begitu banyak langkah untuk menuju ke sana, mana yang saya pilih untuk komik saya? Saya pilih penerimaan diri, sumarah. Tapi jangan dihadirkan berat-berat, nanti malah tidak ada yang baca.

Maka saya membuat komik di mana tokoh utamanya serba payah namun hidup dalam dunia yang ceria. Ia sadar akan kepayahannya, dihantam melulu oleh keadaan, namun tetap mampu memposisikan hal-hal menyedihkan tersebut secara jenaka.

Yeaah, hal-hal buruk terjadi. Tapi dari pada marah atau bersedih, lebih baik kita rayakan saja. Saya ingin komik saya mampu menemani pembaca. Terutama yang merasa jatuh. Komik tersebut saya harapkan bersifat reflektif. Pembaca mampu melihat dirinya sendiri pada tokoh utama. Lalu ketika pembaca sedang merasa jatuh, komik saya bisa memberi rasa ringan.

Ternyata berhasil juga pada beberapa pembaca. Gagal pada banyak pembaca. Begitulah sayangnya, konsep ndakik-ndakik muluk-muluk tidak otomatis membuat sebuah karya berhasil.

Tidak buruk sih, komik itu menarik penerbit. Tiga buku dalam tiga tahun. Penjualan seadanya. Popularitas di media sosial begitu-begitu saja, bahkan tertinggal di antara komik-komik strip baru lain yang sama-sama menggunakan media sosial.

Menurut saya, komik tersebut stagnan karena tanggung. Komik saya tenggelam dalam tren komik lucu-lucuan mengasihani diri. Komik saya mau nglucu tapi garing dengan beban “filosofis”nya, mau filosofis tapi kok seperti lucu-lucuan saja. Ditambah saya sok-sokan menolak membicarakan hal aktual. Alasannya, ketika bicara hal aktual, maka pembaca akan menautkan komik tersebut dengan orang lain (pada kasus yang sedang terjadi), bukan pada dirinya sendiri. Jika demikian yang terjadi, maka sifat reflektif komik saya akan hilang.

Pada suatu titik, saya berhenti. Memberi diri sendiri waktu untuk berpikir dan merombak konsep berkarya. Keputusan saya waktu itu adalah “memberitahu” pembaca bahwa komik saya berbobot. Saya membuat proyek buku komik yang kemudian berjudul “Kibal-Kibul Motivasi”. (Waktu itu trend motivator masih tinggi, jadi sebenarnya saya takut-takut juga kalau nanti dihujat. )

Karena ini proyek yang cukup panjang (dibuat hampir setahun, setahun lagi nunggu terbit – yang akhirnya saya terbitkan sendiri), maka saya mengisi facebook saya dengan karya komik yang bersifat instan. Definisinya, yang sekali duduk sudah jadi. Maka muncullah komik 2 bait.

Dua bait_03.png

Awalnya saya namai demikian karena ingin “berpuisi” dengan komik. Tapi lama-lama nggak kuat juga berpuisi terus menerus. Akhirnya ia jadi sebatas komik dengan dua panel. Seperti sifatnya yang instan, saya bicara hal-hal aktual. Dan ternyata, komik yang saya buat dengan niat sekadar ada itu mengajarkan banyak hal pada saya.

Pelajaran pertama adalah membaca momen dan isu. Isu mana yang akan ngangkat dan kapan baiknya komik itu diangkat. Isu mudah kadaluarsa. Sudah terlalu lama hingga warganet sudah tidak peduli. Tapi terlalu cepat juga tak baik, karena bisa-bisa warganet belum tahu apa yang terjadi.

Pelajaran kedua adalah membaca cara pandang pembaca. Komik strip itu sedikit banyak mirip kartun (editorial), dia hanya punya ruang begitu sempit untuk menjelaskan latar kepada pembaca. Jadi ketika karya tersebut dilemparkan kepada pembaca, pembaca diasumsikan tahu latar karya tersebut. Apa isu yang diangkat, apa yang terjadi di dunia nyata. Ketika pembaca tidak tahu isu yang diangkat, maka makna karya akan mengalami reduksi.

Pelajaran ketiga, yang sebenarnya jadi bagian dari pelajaran dua, adalah mempelajari logika pembaca. Memahami argumentasi yang mereka miliki ketika menentukan sikap pada suatu isu. Ini penting, karena komik di media sosial memiliki kolom komentar yang dapat dilihat dan diisi siapa saja (kalau tidak dimatikan fiturnya). Berarti, mempublikasikan komik di media sosial berarti memunculkan ruang dialog. Bisa dialog antar kreator dan pembaca, atau dialog antara sesama pembaca. Selain itu, proses ini membuat karya bisa lebih tajam. Ia sudah diuji sebelum dieksekusi.

Ada berbagai pendekatan untuk memantik dan menangani dialog. Pendekatan yang saya lakukan adalah mengajak pembaca untuk melihat suatu kasus dari sisi lain, sisi yang jarang ditilik. Harapannya agar pembaca memiliki pemahaman dan empati lebih pada suatu kasus. Saya juga berusaha menjaga agar komik saya tidak menimbulkan amarah pada pembaca. Juga tidak memantik pertikaian. Menjaga suasana dingin mulai dilakukan dari komiknya sendiri. Setelah komik dipublikasikan, menjaga suasana ditentukan kemampuan kreator/admin untuk memoderasi. Caranya antara lain menjaga diri tidak menyerang orang yang berkomentar dan menegur komentator yang menggunakan bahasa kasar untuk menyerang komentator lain. (Sebenarnya menghindari pertikaian itu bukan cara bagus untuk menjadi populer…)

Cukup ndakik-ndakik menurut saya, dan sekali lagi konsep sok ruwet itu bukan jaminan sukses. Beberapa komik 2 bait cukup viral, kebanyakan biasa saja. Yang jelas lingkaran pembaca tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Tapi tak apa, saya menikmati prosesnya. Toh, komik dua bait ini memang diniatkan menjadi karya instan.

cover_motiv.jpg

Buku komik “Kibal-Kibul Motivasi” akhirnya selesai. Terbit, dicetak, dan distribusikan secara mandiri. Cukup berhasil tampaknya, respon pembaca luring (karena tak ada versi daring) sesuai harapan. Saya berproses untuk membuat buku komik selanjutnya. Salah satunya adalah konsep komik “Yesus dan Aku.”

Bab pertama saya kerjakan terburu-buru karena sedang sibuk tapi ngotot mengejar momen Paska (mengakibatkan standar gambar yang rendah untuk bab-bab berikutnya). Di komik ini saya mengambil karakter Yesus untuk saya letakkan pada masa kini. Ia hadir sebagai manusia biasa yang membimbing si “Aku”, tokoh utama, dengan cara tinggal serumah dengan dia. Pada bab “Memanggul Salib” itu, saya bicara konsep dosa asal dalam tradisi Kristiani yang dilihat dari sudut pandang saya sendiri (Iya, saya seenaknya memaknai ajaran agama), dikaitkan dengan wafat Yesus di kayu salib.

Saya punya kepercayaan terhadap komik itu. Ternyata hasilnya jauh di luar dugaan. Komik itu viral, bab tersebut dibagikan tidak kurang dari 13.500 kali. (Sesaat, saya merasa bisa menyaingi Jonru). Dari total sebelas bab yang ada, tujuh bab telah dibagikan di media sosial (dua bab tidak hendak saya unggah). Enam di antaranya telah dibagikan ribuan kali juga. Banyak diskusi menarik dan mencerahkan yang dapat ditemui di kolom komentar. Menurut dugaan saya, keberhasilan komik ini dalam menjangkau pembaca terletak pada: materi komiknya sendiri, sentimen keagamaan dari pembaca, tema yang mampu direlasikan dengan konteks kehidupan pembaca saat ini, dan momen publikasi yang tepat.

YdanA_sampul promo.jpg

Saat ini saya mulai mempersiapkan karya untuk buku selanjutnya. Konsepnya sama, komik-komik pendek yang nantinya menjadi bab-bab dalam sebuah buku. Saya kesampingkan dahulu karya berupa komik strip. Komik pendek saya nilai memiliki keuntungan yang saya inginkan. Ia lebih mudah dibaca di media sosial daripada komik panjang, namun ia lebih leluasa memberikan kedalaman makna daripada komik strip.

Kali ini saya berencana mengunggah semua bab yang ada. Karena ada kenikmatan tersendiri dari komik-komik yang saya unggah itu. Pertama ia dapat menjangkau lebih banyak pembaca. Kedua adalah dialog yang tercipta. Saya belajar banyak dari dialog-dialog tersebut. Saya jadi berkenalan dengan pembaca. Ketika saya berhasil menyentuh mereka dengan komik saya, mereka juga menyentuh saya dengan tanggapan mereka.

Sebagai penutup, saya ingin mempromosikan proyek komik yang digarap bersama antara saya dan istri. Cerita kami buat bersama, selebihnya ia yang menggambar dan mengurus publikasi. Kami menggunakan instagram yang dibagikan lewat facebook. Judulnya “Hingga Usai Usia”. Isinya tentang kehidupan berumah tangga. Konsepnya tidak ndakik-ndakik seperti komik yang saya buat sendiri. Sederhana, lucu-lucuan suami istri.

24300931_10212823369972595_7933992746596980680_n.jpg

Dan pada pemunculan perdananya, akun facebook istri saya sudah diblok seorang pembaca.

24177036_10212828832189147_7660260933553223610_n.jpg

Wah, betapa menariknya berkarya di media sosial.

Yogyakarta, 5-7 Desember 2017

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s