Pernahkah Kamu Memeluk Seolah Tak Kan Pernah Lagi Memeluk


pelukan terakhir

Karakter diambil dari komik Senja dan Bintang

Saat Cuka masih muda, cantik lucu penuh vitalitas, punya anjing terasa begitu menyenangkan. Saat itu aku berpikir, kalau Cuka sudah mati, tentu aku ingin anjing lagi. Kalau bisa persis seperti dia. Dikloning kalau perlu.

Lalu Cuka menua. Rambutnya menipis. Matanya kelabu terkena katarak. Pandangannya semakin buruk. Lagaknya tak lagi gesit. Beberapa kali sakit, beberapa kali harus diperiksa dokter.

Dari awal, tentu saja kami sekeluarga tahu bahwa Cuka akan mati. Umur anjing jauh lebih pendek dari manusia. Kami tahu, kemungkinan besar, ia akan pergi meninggalkan kami lebih dahulu. Tapi tahu ternyata berbeda dengan menghadapi.

Melihat Cuka yang sudah tua ternyata tidak mudah. Cuka belum mati, dan kami sudah berpikir, “Cukup, tidak perlu ada anjing lagi setelah ini.” Kesadaran bahwa ia bisa sewaktu-waktu dapat meninggalkan kami ternyata menyakitkan. Memiliki anjing kembali berarti harus menghadapi masa-masa ini sekali lagi. Bayang kematian menghantui.

Sampai akhirnya aku menerima. Bahwa ia akan pergi dan aku akan sendiri.

Sampai akhirnya aku sadar. Bahwa menerima, berbeda jauh dengan tahu.

Kesadaran bahwa ia dapat pergi kapan saja, besok atau besoknya lagi, tetap memberi rasa sedih. Tapi menerimanya membuat saya bersikap lain.

Saya jadi lebih menghargai waktu bersama Cuka. Kupandang ia lebih lama, karena besok bisa jadi aku tak sempat lagi mengamati. Ketika ia mengajak bermain, kuluangkan waktu sebisa mungkin. Persetan dengan pekerjaan, aku kerjakan nanti. Karena mungkin, besok ia tak kuat lagi.

Aku sering memeluk, karena besok mungkin ia tak ada untuk dipeluk. Kubenamkan muka pada tubuhnya dan kuhirup nafas panjang, mengisi paru-paruku dengan kenangan. Siapa tahu besok ia tak ada, dan yang kumiliki hanyalah ingatan.

Tiap kali menyayanginya, tidak ada lagi kata esok. Karena mungkin tak ada lagi besok. Di situ, saat itu, kucurahkan penuh-penuh, “Aku sayang kamu.”

Cuka kini telah meninggal. Tanganku ada di tubuhnya saat nafas terakhir terhembus. Tapi ia tidak hanya meninggalkan air mata padaku. Ia meninggalkan cara pandang pada kehidupan. Ia meninggalkan cara pandang pada kematian.

Tak ada lagi kata seandainya besok ia tak ada, karena ia memang sudah tak ada.

Yang ada adalah, aku masih hidup. Dan bisa jadi besok tidak lagi. Karena itu aku menghargai hidup dengan penuh-penuh. Bukan soal kemarin, bukan soal besok, bukan soal yang terjadi di sana. Tapi yang kuhadapi di sini, saat ini.

Jadi pernahkah kamu memeluk peliharaan atau anakmu seolah kamu tak akan pernah lagi memeluk. Mendengarkan orang tua dan saudara seolah besok tak akan ada lagi suara dari mereka. Atau mencium kekasihmu seolah itu pertemuan terakhir kalian.

Pernahkah kamu memandang langit dan menyadari ia tak kan pernah sama lagi. Melihat sekitar dan membayangkan hari itu adalah hari terakhir dunia. Merasakan udara mengalir di hidung seolah itu nafas terakhir.

Kalau pernah, aku rasa dunia tetap sama. Tidak ada yang berubah selain menjadi lebih indah.

Yogyakarta, 28 Januari 2018
Ditulis sambil ngantuk, mata kriyip-kriyip. Unyil, anjingku, tidur di lantai. Tadi kusempatkan memeluknya. Sisca, si istri, lelap di kasur. Nanti kusempatkan menciumnya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s