Mengonsep Ulang Cita-Cita


Kuliahan_28Dari kecil sampai kuliah saya tidak punya cita-cita. Pertanyaan tentang cita-cita adalah pertanyaan membingungkan.

“Besok besar mau jadi apa?”

Dari pada mengundang pertanyaan lebih lanjut, biasa saya jawab ngawur. Dokter, pilot, atau apalah yang standar-standar saja agar perbincangan segera usai.

Jawaban paling tidak ngawur yang pernah saya ucapkan adalah jadi dokter hewan. Saya suka binatang. Tampak menyenangkan bisa memegang-megang anjing dan hewan-hewan lain. Cita-cita yang setengah-setengah ini kandas waktu SMU, yang entah dari mana lupa, saya dapat info kalau jadi dokter hewan itu lebih berurusan dengan merogoh-rogoh sapi dari pada hewan-hewan lucu. Kalau dipikir-pikir sekarang, info itu ada benarnya tapi tidak valid juga.

Susah memang mencari cita-cita. Orang tua saya sebenarnya membebaskan anaknya mau jadi apa. Hanya beberapa profesi yang tidak disarankan. Seperti ABRI, PNS, atau pemain sepak bola. Alasannya sederhana, sebagai keturunan Cina, berat kalau harus memiliki profesi itu. Banyak jadi sasaran hajaran.

Sayangnya, dibalik kebebasan itu, wawasan orang tua saya yang tidak berpendidikan tersebut tidak cukup luas untuk membimbing saya melihat dunia. Maklum, mereka tahunya hanya berdagang. Buka toko atau bikin apa buat dijual (di toko).

Brengseknya, waktu paling penting buat menentukan cita-cita malah saya habiskan di sekolah yang lebih peduli reputasi dirinya dari pada masa depan murid-muridnya. Sedari masuk SMU, murid-murid mendapat doktrin kalau jalur hidup gemilang itu cuma satu, lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di jurusan-jurusan favorit universitas favorit. Dan saya cukup goblok untuk termakan doktrin itu. Sialan banget, kan.

Ya sudah, saya memikirkan masa depan cukup jadi karyawan kantoran. Bayangan saya akan karyawan kantoran adalah PNS masa lalu. Berangkat pagi dan pulang sore sewaktu hari masih terang. Saya bisa santai-santai di halaman rumah dan merawat tanaman. Pilihan kedua, kerja di tambang. Karena konon penghasilannya besar sekali. Dokter? Wah, saya tahu diri. Saya ini sering malas-malasan, gimana bisa bertanggung jawab pada nyawa orang terus-terusan.

Singkat cerita, karena kalau diceritakan lengkap bisa satu artikel sendiri, saya masuk jurusan Fisika Teknik sebagai pilihan pertama. Pada awal kuliah saya baru mengetahui keadaan. Pertama, kakak saya sudah jadi karyawan dan hidup karyawan masa sekarang ternyata…bisa sampai rumah saat matahari masih terang adalah kemewahan. Kedua, karena ada kakak teman yang kerja di tambang, saya jadi mengetahui pola kerja mereka. Sekian bulan hidup di tambang dengan lokasi terpencil, sekian bulan/minggu libur balik ke rumah. Bagaimana bisa saya merawat tanaman atau memelihara anjing kalau begitu.

Cita-cita saya hancur. Berkeping-keping. Saya marah pada diri sendiri.

Untung masih semester awal. Saya kemudian bertekad menempuh masa depan yang tidak sejalur dengan kuliah saya. Mulai suatu titik, saya mencari-cari. Pokoknya saya mau hidup dari kegiatan, yang akan tetap saya kerjakan walau saya tidak dibayar.

Jadi mulailah petualangan saya. Sempat ingin berteater sampai diajak teman buat mencoba jalur film. Mulai dari mana tak tahu. Cari kenalan, ke sana sini, sampai akhirnya malah berkesempatan main film lalu coba buat-buat sendiri dengan kenalan baru. Lalu karena butuh uang buat produksi, tiba-tiba saya bekerja paruh waktu di studio animasi.

Kemudian sadar, animasi lebih cocok buat saya. Kerja di film tidak ramah buat saya yang tidak suka ketemu orang banyak terus menerus. Waktu kerjanya tidak fleksibel, bisa berhari-hari produksi terus menerus tanpa jeda. Juga menuntut mobilitas tinggi yang tidak baik bagi pemabuk darat macam saya. Ketika film saya mulai dikenal dan komunitas kami mendapat proyek syuting pertama kali, saya malah mangkir untuk tes pekerjaan animasi di ibu kota.

Karir saya sebagai animator dimulai. Semakin lama semakin baik. Saya senang menjadi animator. Tapi tetap ada hal-hal yang tidak sesuai. Yang paling utama adalah, industrinya tidak sehat. Kontrak kerja meletakkan animator pada pihak yang sangat lemah. Jam kerja gila-gilaan. Menghabiskan 12 jam di kantor adalah asupan sehari-hari, sering lebih. Bahkan pernah saya harus bekerja sampai jam 5 pagi (setelah tidur sebentar di kursi). Dan itu belum yang paling parah, karena jam kerja rekan-rekan saya bisa lebih tidak manusiawi lagi. Padahal ada dari mereka sudah berkeluarga, kapan bertemu anak istri.

Akhirnya pada suatu titik, saya keluar. Cukup. Saya putuskan dengan ketakutan. Tidak lagi jadi karyawan. Tentu sudah dilengkapi dengan tabungan, yang saya kumpulkan pelan-pelan, diiringi nyinyiran pelit oleh kawan-kawan.

Mencoba dan batal, kalau tak dibilang gagal, bukan hal yang percuma. Dari perjalanan itu saya menemukan cita-cita saya.

Saya ingin hidup dari hal-hal yang memang saya ingin lakukan. Saya ingin waktu yang fleksibel dan tidak sibuk-sibuk amat. Agar saya bisa merawat tanaman, memelihara hewan, punya waktu untuk kawan, dan bisa sekonyong-konyong berangkat jika ada tawaran jadi relawan. Saya ingin kuasa memilih pekerjaan. Mengejar yang mengasyikkan dan menolak yang tak menyenangkan.

Awalnya sulit. Ada kecewa, sesal, dan hilang harap. Ada ragu, ingin kabur, dan kembali melacur.

Tapi nyatanya sekarang saya bisa. Pekerjaan saya variatif. Kalau bosan tidak akan lama, karena sebentar kemudian ada pilihan pekerjaan lain untuk dihadapi. Ada yang tidak (banyak) mikir, banyak juga yang harus berpikir dan belajar hal-hal baru. Banyak yang dikerjakan sendiri di rumah, tapi ada yang harus bertemu orang-orang (kadang hebat dan menarik). Saya punya banyak tanaman, termasuk sedikit sayuran. Saya memelihara ikan dan anjing. Waktu saya fleksibel, relatif bisa bepergian kapan saja tanpa harus minta izin orang. Waktu luang saya cukup, kadang hanya buat tiduran. Keuangan saya cukup, mandiri dan tidak bikin deg-degan. Dan dengan itu semua, saya bisa memiliki pasangan hidup yang juga menikmati kehidupan yang saya nikmati.

Cita-cita saya adalah apa yang saya alami saat ini. Usaha-usaha yang saya lakukan bukan lagi untuk mengejar cita-cita itu, tapi untuk hidup di dalamnya. Menjaganya agar tetap berada dalam keseimbangan. Kadang sedikit keluar, kadang sedikit bergeser, tapi kemudian di dalam lagi.

Saya bukan ingin sombong. Toh, kalau untuk ukuran motivator-motivator, hidup saya ini cuma gitu-gitu saja. Bisa jadi tergolong menyedihkan. Mobil saja tak punya. Tapi di sini saya ingin mengatakan pada Anda yang masih bingung akan cita-cita, pada orang-orang seperti saya yang masih muda;

Cita-cita adalah apa yang ingin kita lakukan. Cita-cita adalah kehidupan yang ingin kita jalani.

Profesi sebagai cita-cita adalah impian yang terlalu sempit. Ingin menyembuhkan orang? Anda bisa jadi tukang pijat refleksi, akupunturis, herbalis, atau banyak lagi. Tidak melulu harus jadi dokter.

Mengetahui apa yang dikerjakan oleh sebuah profesi juga tidak cukup, kita juga harus tahu bagaimana kehidupan yang mereka jalani. Karena bila itu cita-cita kita, hidup seperti itu pula yang akan kita jalani.

Semua pekerjaan bisa menjadi profesi yang mulia. Semua pekerjaan bisa membawa kita ke puncak pencapaian. Semua pekerjaan bisa membuat kita menjadi makmur. Jelajahi dunia, nikmati kemungkinannya.

Jangan percaya doktrin-doktrin pendidikan. Dunia berubah cepat dan semakin cepat. Kita tak tahu apa yang akan dihadapi lima atau sepuluh tahun lagi. Bukan hanya akan ada profesi-profesi baru, tapi juga akan ada cara dan gaya baru untuk hidup. Bisa jadi sebentar, cita-citamu sudah usang. Bisa jadi dalam sekejap, hidup yang dulunya mustahil berubah jadi mungkin.

Semua yang saya katakan memang tak mudah. Tapi lebih baik dari pada berjalan ke arah yang salah.

Yogyakarta, 7 Maret 2018

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengonsep Ulang Cita-Cita

  1. sang petualang says:

    artikel yang menarik, kisah hidupmu mirip-mirip denganku, sekalipun tidak sama persis.

    suatu hari di pertengahan menuju akhir dekade 2000-an, saat aku masih di awal-awal kelas 3 SMA, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba aku diajak ngobrol berdua dengan bapakku. Ternyata tanpa konfirmasi/persetujuanku aku telah didaftarkan ke bimbingan belajar untuk menghadapi tes masuk di suatu universitas swasta di kotaku, dan aku langsung disuruh mengambil jurusan akuntansi, dengan alasan:
    “Karena kamu itu anak IPS, jurusan yang paling bagus itu ya akuntansi, lulusannya bisa dengan mudah mendapatkan lowongan pekerjaan dan memperoleh gaji yg tinggi..”

    “tapi pak…”

    “Sudah jangan banyak protes, bapak tau yang terbaik buat kamu, jangan macem-macem!!”

    alhasil aku pun tidak bisa berkutik saat itu, yg punya uang dan kuasa adalah orangtuaku, ya sudah dengan terpaksa aku menuruti kemauan mereka mengikuti bimbel, sambil disertai ancaman ‘awas kalau tidak sampai keterima di tes masuk universitas tersebut’

    waktupun berlalu, aku pun akhirnya bisa lolos dan keterima masuk di jurusan akuntansi universitas tersebut. hanya saja yang ada dipikiranku saat itu adalah rasa lega, bukan senang/gembira, karena memang itu bukan jurusan yg aku mau. aku hanya lega karena ‘lolos’ dari amukan bapakku apabila sampai gagal keterima masuk

    fast forward ke beberapa bulan berikutnya, aku pun mulai menjalani perkuliahan di kampus swasta tersebut. sekedar info, di sana aku masih bertemu banyak teman-teman SMA-ku karena aku akui memang kampus tersebut salah satu kampus bergengsi di kotaku. seolah-olah ada aturan tidak tertulis bahwa masuk ke kampus tersebut = auto sukses (baca: gengsi tinggi)
    sangat disayangkan sejak zaman aku SMA, orangtuaku termasuk yg mudah terdoktrin oleh lingkungan (guru, sesama orangtua murid lain, brosur, dsb) bahwa masuk ke universitas bergengsi dan jurusan yg “bagus” otomatis akan menjamin anaknya sukses, ditambah lagi gaya mendidik mereka yg otoriter membuat saya makin tertekan saja

    dan yg aku takutkan pada akhirnya terjadi, sejak UTS semester 1 aku menyadari bahwa aku ada di jurusan yg salah. tapi aku juga menyadari bahwa percuma ngomong sama orangtuaku, karena yg ada malah aku makin diceramahi

    aku pun melampiaskan rasa frustrasi ini dengan ikut-ikut kepanitiaan acara ini-itu di kampus agar ada alasan untuk bolos. dan alhasil pelajaranku makin tertinggal saja, tapi aku sudah di titik muak & tidak peduli lagi karena tidak ada siapa-siapa yg bisa aku jadikan tempat cerita. hasilnya pun bisa ditebak: IP-ku sudah bukan satu koma lagi, tapi sudah nol koma!!

    4 tahun berlalu, sebagian teman-teman seangkatan sudah pada lulus, sementara aku masih mengulang banyak mata kuliah dan sekelas dengan adik-adik angkatan. di hari terakhir UAS semester 8, aku mendapat firasat tidak enak, saat meninggalkan gedung kampus, aku merasa seolah-olah gedung tersebut “melambaikan tangan” untuk mengucapkan salam perpisahan untuk diriku

    hal yg terburuk pun akhirnya terjadi, beberapa waktu kemudian aku menerima surat dari kampus bahwa aku di-dropped out karena nilai-nilaiku tidak melewati batas aman, sungguh hancur rasanya hatiku. setelah 4 tahun studi di jurusan dan kampus yg “bergengsi”, semua harus berakhir dengan kesia-siaan. uang, waktu, umur, kesempatan…semua terbuang dengan percuma.

    kebayang seperti apa kecewanya orangtuaku, dan juga betapa malunya diriku, rasanya ingin ditelan bumi saja saat itu. setidaknya bersyukur sekecewa-kecewanya aku, sedikitpun tidak terbersit niat untuk bunuh diri, yg ada justru semangat membara untuk bangkit & ‘balas dendam’ (dalam konteks yg positif tentunya) untuk menjadi lebih sukses dari teman-teman seangkatanku

    singkat cerita, beberapa bulan setelah DO aku pun pindah ke luar kota. aku ingin me-reset ulang hidupku dari nol lagi dan tinggal di lingkaran sosial yg baru, semua hal yg berhubungan dengan kota yg lama aku hapus (kontak, media sosial, dan jejak-jejak lainnya)

    beruntunglah dirimu tidak seperti aku, bisa segera menemukan passion-mu sebelum terlambat. namun seperti pepatah bilang “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, maka inilah aku sekarang, sedang merintis suatu bisnis dari nol lagi untuk bangkit. tidak ada gunanya mengasihani diri sendiri karena hidup itu memang keras, dan sisi positif dari peristiwa ini adalah kepribadianku terbentuk menjadi lebih tangguh

    ngomong-ngomong, passion/hal yg paling kusukai ternyata adalah traveling. cita-citaku untuk jangka panjang adalah menjadi travel blogger/vlogger seperti para Youtubers bule yg suka solo traveling itu. untuk saat ini masih harus menabung dulu dari bisnis yg kujalani, setidaknya sampai finansialku stabil. sekalipun sangat-sangat terlambat, tapi setidaknya segala kegiatan yg aku lakukan saat ini seperti ada “jiwanya”, ada sebuah semangat di dalam diri untuk mencapai suatu tujuan besar di masa depan…mungkin itulah yg dinamakan passion kali ya

    doakan saja supaya aku bisa sukses di masa depan seperti dirimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s